Waspada Ikan Berformalin Beredar di Jakut

Jumat, 06 Juni 2014 Reporter: Devi Lusianawati Editor: Widodo Bogiarto 6385

ikan_laut.jpg

(Foto: doc)

Warga Jakarta Utara diminta berhati-hati dalam berbelanja kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional. Sebab, disinyalir masih banyak oknum pedagang nakal menjual makanan yang mengandung bahan formalin. Jenis makanan yang kerap dicampur bahan kimia pengawet mayat itu antara lain ikan dan cumi.

Pertama kita berikan surat peringatan. Kalau masih dilanggar, kita akan lakukan upaya hukum

Pasalnya, belum lama ini, Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Jakarta Utara menemukan adanya ikan yang mengandung formalin di sejumlah pasar tradisional di Jakarta Utara. Setidaknya, ada 5 persen ikan mengandung formalin dari jumlah sampel ikan yang diambil.

Untuk menekan peredaran ikan berformalin, Sudin P2K Jakarta secara rutin melakukan pengawasan di pasar-pasar tradisional. Dalam pengawasan tersebut, Sudin P2K melakukan uji formalin dengan dua cara, yakni uji formalin di lokasi (hotspot) dan uji formalin di Balai Pengujian Mutu Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta.

Kepala Sudin P2K Jakarta Utara,  Sri Haryati mengatakan, jika pedagang terbukti menjual ikan busuk atau mengandung berformalin, maka pihaknya akan menindak tegas penjual ikan tersebut. "Pertama kita berikan surat peringatan. Kalau masih dilanggar, kita akan lakukan upaya hukum," ujar Sri, Jumat (6/6).

Temuan ikan berformalin tersebut, kata Sri, diambil dari sejumlah pasar tradisional yang ada di Jakarta Utara. "Masih ada pedagang yang jual ikan berformalin," kata Sri. Namun Sri belum bisa menyebutkan nama-nama pasar pedagangnya diketahui masih menjual ikan berformalin.

Oleh karena itu, Sri mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika membeli ikan. "Kami sudah pasang berbagai informasi bagaimana memilih ikan," ujarnya.

Meski secara kasat mata kandungan formalin dalam produk pangan hasil laut sulit dideteksi, ada cara sederhana untuk membedakannya. Ikan berformalin biasanya tak mengundang lalat, tekstur lebih kaku, warna mata dan insang lebih segar kemerahan, bau amis menyengat, daging keras, dan seratnya kencang.

Sementara itu, Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono sudah meminta Sudin P2K makin gencar mengimbau masyarakat melalui selebaran terkait ciri-ciri ikan tidak layak dibeli. "Sudin P2K harus proaktif memberitahu masyarakat agar mereka bisa mengetahui ikan layak konsumsi atau tidak," tandas Heru.

 

BERITA TERKAIT
limbah tahu ilustrasi

Limbah Tahu di Jaktim Cemari Lingkungan

Sabtu, 24 Mei 2014 18736

Jelang Ramadhan Stok Beras Masih Aman

Jelang Ramadhan, Stok Beras di Jakarta Aman

Jumat, 06 Juni 2014 3537

inflasi ilustrasi

Mei, Inflasi di Jakarta Capai 0,05 Persen

Senin, 02 Juni 2014 4243

prj monas jakarta beritajakarta

Jakarta Pusat Fair Tampilkan 50 Stan Produk Unggulan

Kamis, 05 Juni 2014 6292

. Muhtar juga mendapatkan ratusan Kilo Gram (Kg) daging import di Pasar-pasar Tradisional di wilayah

Daging Sapi Impor Banjiri Pasar Tradisional Jakut

Selasa, 13 Mei 2014 6806

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2503

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1202

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 962

IMG 20260917 WA0098

111 Kucing di Dua Pulau Sudah Disterilisasi dan Divaksin Rabies Gratis

Kamis, 17 September 2026 509

Gub pramono ppid

Bahas Krisis Iklim hingga Pangan, Pramono Bertolak ke New York

Jumat, 18 September 2026 404

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks