Waspada Ikan Berformalin Beredar di Jakut

Jumat, 06 Juni 2014 Reporter: Devi Lusianawati Editor: Widodo Bogiarto 6156

ikan_laut.jpg

(Foto: doc)

Warga Jakarta Utara diminta berhati-hati dalam berbelanja kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional. Sebab, disinyalir masih banyak oknum pedagang nakal menjual makanan yang mengandung bahan formalin. Jenis makanan yang kerap dicampur bahan kimia pengawet mayat itu antara lain ikan dan cumi.

Pertama kita berikan surat peringatan. Kalau masih dilanggar, kita akan lakukan upaya hukum

Pasalnya, belum lama ini, Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Jakarta Utara menemukan adanya ikan yang mengandung formalin di sejumlah pasar tradisional di Jakarta Utara. Setidaknya, ada 5 persen ikan mengandung formalin dari jumlah sampel ikan yang diambil.

Untuk menekan peredaran ikan berformalin, Sudin P2K Jakarta secara rutin melakukan pengawasan di pasar-pasar tradisional. Dalam pengawasan tersebut, Sudin P2K melakukan uji formalin dengan dua cara, yakni uji formalin di lokasi (hotspot) dan uji formalin di Balai Pengujian Mutu Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta.

Kepala Sudin P2K Jakarta Utara,  Sri Haryati mengatakan, jika pedagang terbukti menjual ikan busuk atau mengandung berformalin, maka pihaknya akan menindak tegas penjual ikan tersebut. "Pertama kita berikan surat peringatan. Kalau masih dilanggar, kita akan lakukan upaya hukum," ujar Sri, Jumat (6/6).

Temuan ikan berformalin tersebut, kata Sri, diambil dari sejumlah pasar tradisional yang ada di Jakarta Utara. "Masih ada pedagang yang jual ikan berformalin," kata Sri. Namun Sri belum bisa menyebutkan nama-nama pasar pedagangnya diketahui masih menjual ikan berformalin.

Oleh karena itu, Sri mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika membeli ikan. "Kami sudah pasang berbagai informasi bagaimana memilih ikan," ujarnya.

Meski secara kasat mata kandungan formalin dalam produk pangan hasil laut sulit dideteksi, ada cara sederhana untuk membedakannya. Ikan berformalin biasanya tak mengundang lalat, tekstur lebih kaku, warna mata dan insang lebih segar kemerahan, bau amis menyengat, daging keras, dan seratnya kencang.

Sementara itu, Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono sudah meminta Sudin P2K makin gencar mengimbau masyarakat melalui selebaran terkait ciri-ciri ikan tidak layak dibeli. "Sudin P2K harus proaktif memberitahu masyarakat agar mereka bisa mengetahui ikan layak konsumsi atau tidak," tandas Heru.

 

BERITA TERKAIT
limbah tahu ilustrasi

Limbah Tahu di Jaktim Cemari Lingkungan

Sabtu, 24 Mei 2014 18307

Jelang Ramadhan Stok Beras Masih Aman

Jelang Ramadhan, Stok Beras di Jakarta Aman

Jumat, 06 Juni 2014 3408

inflasi ilustrasi

Mei, Inflasi di Jakarta Capai 0,05 Persen

Senin, 02 Juni 2014 4139

prj monas jakarta beritajakarta

Jakarta Pusat Fair Tampilkan 50 Stan Produk Unggulan

Kamis, 05 Juni 2014 6134

. Muhtar juga mendapatkan ratusan Kilo Gram (Kg) daging import di Pasar-pasar Tradisional di wilayah

Daging Sapi Impor Banjiri Pasar Tradisional Jakut

Selasa, 13 Mei 2014 6493

BERITA POPULER
Program magang disnakertrans gery ist3

1.000 Lulusan SMA Sederajat Ikut Program Pemagangan di 67 Perusahaan

Senin, 04 Mei 2026 880

Gubernur pramono danatara psel rezap

Pemprov DKI-Danantara Sepakat Bangun PSEL

Senin, 04 Mei 2026 798

Dinkes mayday monas desi

Dinkes DKI Siagakan Posko Kesehatan di Peringatan May Day 2026

Jumat, 01 Mei 2026 1159

RZA 0510

Pramono Pastikan Pemprov Hadir Dukung Pembangunan Keluarga

Senin, 04 Mei 2026 599

IMG 20260430 WA0117

Transjakarta-Kemnaker Perkuat Ekosistem Ketenagakerjaan Sektor Transportasi Publik

Kamis, 30 April 2026 1100

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks