Jumat, 16 Oktober 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 91
(Foto: Andri Widiyanto)
Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan terus mengoptimalisasi penelusuran warga dengan Tuberkulosis (TB) untuk dilakukan penanganan secara cepat dan tepat.
"Dapat disembuhkan dan penularannya bisa dicegah"
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Sudinkes Jakarta Selatan, Fitria Ramdhita mengatakan, berdasarkan hasil pendataan dalam periode Januari hingga awal Oktober 2026 tercacat sebanyak 8.406 kasus TB.
"Jumlah ini didapati melalui kegiatan penjangkauan dan skrining kesehatan di 631 lokasi fokus," ujarnya, Jumat (16/10).
Fitria menjelaskan, potensi penemuan kasus baru diperkirakan mencapai 13.000 kasus hingga akhir tahun. Tingginya angka penemuan ini justru positif agar intervensi medis dapat dilakukan lebih awal.
"Saya mengimbau masyarakat yang mengalami gejala TB agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat," terangnya.
Menurutnya, gejala TB umumnya meliputi batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, serta penurunan berat badan.
Masyarakat juga diminta segera menjalani skrining TB, terutama bagi mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB. Pemeriksaan dini diperlukan untuk mendeteksi penyakit sekaligus mempercepat penanganan dan mencegah penularan.
"Segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan dan lakukan skrining TB, terutama jika memiliki kontak erat dengan pasien. TB dapat disembuhkan dan penularannya bisa dicegah," ungkapnya.
Fitria memaparkan, pengenalan gejala dan pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting agar pasien segera memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medis.
"Masyarakat yang mengalami gejala TB terlebih jika memiliki riwayat kontak erat dengan pasien diharapkan tidak menunda pemeriksaan," imbuhnya.
Ia menuturkan, Sudinkes Jakarta Selatan juga menghadapi tantangan berupa stigma terhadap penderita TB. Sebagian masyarakat maupun pasien masih merasa takut dijauhi setelah terdiagnosis penyakit tersebut.
"Tantangan terbesar kami adalah stigma, baik dari masyarakat maupun dari diri pasien sendiri yang merasa takut dijauhi jika terdiagnosis TB. Hal ini terus kami sosialisasikan bersama tenaga kesehatan, Ketua RT/RW, dan kader Dasawisma," ucapnya.
Fitria menambahkan, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan serta penerapan langkah pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian TB. Pasien perlu mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan dan menjalani evaluasi medis secara berkala.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan etika batuk yang benar dan menggunakan masker guna mengurangi risiko penularan.
"Tidak perlu menunggu sampai enam bulan untuk tidak menularkan. Selain itu, penggunaan masker dan etika batuk yang benar sangat efektif untuk mencegah penularan. Stigma ini harus kita hapus bersama," tandasnya.