Komisi E Minta Data Sosial Ekonomi Sesuaikan Kondisi Jakarta

Kamis, 13 Agustus 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 128

Komisi e dprd dki fakhri

(Foto: Fakhrizal Fakhri)

Komisi E DPRD DKI Jakarta meminta pengelolaan data sosial dan ekonomi nasional mempertimbangkan kondisi serta karakteristik masyarakat Jakarta agar penetapan Desil sebagai dasar penyaluran berbagai program bantuan dan layanan sosial dapat lebih tepat sasaran.

Hal tersebut mengemuka dalam rapat kerja Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama Biro Kesejahteraan Sosial (Kesos) dalam rangka pembahasan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD DKI Jakarta Tahun Anggaran 2026.

"Banyak urusan yang datanya tersangkut di Desil,"

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki mengatakan, persoalan data Desil menjadi salah satu sorotan utama dalam rapat tersebut. Menurutnya, ketidaksesuaian data berdampak pada berbagai sektor seperti pendidikan, layanan sosial, hingga penyaluran bantuan sosial (bansos).

"Yang paling disoroti tentu adalah masalah Desil, karena terkait dengan faktor sosial. Banyak urusan yang datanya tersangkut di Desil, seperti pendidikan, sosial, termasuk bansos-bansos banyak terhambat di Desil," ujar Subki, Kamis (13/8).

Komisi E, lanjut Subki, meminta proses pembaruan data Desil segera difinalisasi. Ia juga mendorong adanya mekanisme manual yang memungkinkan masyarakat menyampaikan sanggahan dan memperbarui data secara lebih cepat.

"Kalau semuanya lewat Kemensos itu lama perubahannya. Jadi disediakan semacam proses manual supaya masyarakat bisa proses sanggahnya lebih cepat," katanya.

Subki menjelaskan, lambannya pembaruan data tidak terlepas dari pengelolaan data sosial dan ekonomi yang dilakukan secara nasional melalui Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

Di sisi lain, Subki menilai, penggunaan data tunggal nasional perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah. Pasalnya, standar kondisi ekonomi di Jakarta tidak selalu dapat disamakan dengan daerah lain.

"Karena kita tidak boleh punya data sendiri. Sebelumnya kita punya data sendiri, tapi harus di-merge ke data nasional karena DTKS itu sudah menjadi data tunggal sosial dan ekonomi nasional," jelasnya.

Ia mencontohkan, masyarakat dengan penghasilan Rp3 juta di daerah tertentu bisa dianggap memiliki kondisi ekonomi yang cukup. Namun, kondisi tersebut belum tentu sama jika diterapkan di ibu kota yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.

Lebih lanjut, Subki meminta pendataan ekonomi nasional dilakukan secara akurat agar penetapan Desil tidak keliru.

BERITA TERKAIT
IMG 20260729 WA0165

Perbaikan GOR dan Pemutakhiran Data Bansos Jadi Prioritas APBD 2027

Rabu, 29 Juli 2026 370

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Muhammad Taufik Zoelkifli

Data Akurat Sensus Ekonomi Perkuat Kebijakan Pemprov DKI

Senin, 13 Juli 2026 483

IMG 20260616 WA0056

DPRD dan BPS Dorong Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 16 Juni 2026 618

BERITA POPULER
Gubernur pramono MUI rezap

Pemprov DKI Bakal Tindak Tegas Aksi Pelecehan Agama

Selasa, 11 Agustus 2026 12751

IMG 20260812 WA0088

Transjakarta Siapkan Pengelolaan Transportasi Kepulauan Seribu Tahun Depan

Rabu, 12 Agustus 2026 1437

Kapal cepat dishub muara angke jati

Legislator Dukung Pengalihan Transportasi Kepulauan Seribu ke Transjakarta

Senin, 10 Agustus 2026 1390

Pembukaan jafex 2026 rezap

Buka JAFEX 2026, Pramono Ingin Optimalkan Pemanfaatan Aset Daerah

Selasa, 11 Agustus 2026 857

Ketua dprd suhud alynudin fakhri2

Ketua DPRD Minta Pelaku Usaha Hiburan Tak Gunakan Agama sebagai Gimmick

Rabu, 12 Agustus 2026 700

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks