Komisi E Minta Data Sosial Ekonomi Sesuaikan Kondisi Jakarta

Kamis, 13 Agustus 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 761

Komisi e dprd dki fakhri

(Foto: Fakhrizal Fakhri)

Komisi E DPRD DKI Jakarta meminta pengelolaan data sosial dan ekonomi nasional mempertimbangkan kondisi serta karakteristik masyarakat Jakarta agar penetapan Desil sebagai dasar penyaluran berbagai program bantuan dan layanan sosial dapat lebih tepat sasaran.

Hal tersebut mengemuka dalam rapat kerja Komisi E DPRD DKI Jakarta bersama Biro Kesejahteraan Sosial (Kesos) dalam rangka pembahasan Perubahan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD DKI Jakarta Tahun Anggaran 2026.

"Banyak urusan yang datanya tersangkut di Desil,"

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, M. Subki mengatakan, persoalan data Desil menjadi salah satu sorotan utama dalam rapat tersebut. Menurutnya, ketidaksesuaian data berdampak pada berbagai sektor seperti pendidikan, layanan sosial, hingga penyaluran bantuan sosial (bansos).

"Yang paling disoroti tentu adalah masalah Desil, karena terkait dengan faktor sosial. Banyak urusan yang datanya tersangkut di Desil, seperti pendidikan, sosial, termasuk bansos-bansos banyak terhambat di Desil," ujar Subki, Kamis (13/8).

Komisi E, lanjut Subki, meminta proses pembaruan data Desil segera difinalisasi. Ia juga mendorong adanya mekanisme manual yang memungkinkan masyarakat menyampaikan sanggahan dan memperbarui data secara lebih cepat.

"Kalau semuanya lewat Kemensos itu lama perubahannya. Jadi disediakan semacam proses manual supaya masyarakat bisa proses sanggahnya lebih cepat," katanya.

Subki menjelaskan, lambannya pembaruan data tidak terlepas dari pengelolaan data sosial dan ekonomi yang dilakukan secara nasional melalui Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial (Kemensos).

Di sisi lain, Subki menilai, penggunaan data tunggal nasional perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah. Pasalnya, standar kondisi ekonomi di Jakarta tidak selalu dapat disamakan dengan daerah lain.

"Karena kita tidak boleh punya data sendiri. Sebelumnya kita punya data sendiri, tapi harus di-merge ke data nasional karena DTKS itu sudah menjadi data tunggal sosial dan ekonomi nasional," jelasnya.

Ia mencontohkan, masyarakat dengan penghasilan Rp3 juta di daerah tertentu bisa dianggap memiliki kondisi ekonomi yang cukup. Namun, kondisi tersebut belum tentu sama jika diterapkan di ibu kota yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.

Lebih lanjut, Subki meminta pendataan ekonomi nasional dilakukan secara akurat agar penetapan Desil tidak keliru.

BERITA TERKAIT
IMG 20260729 WA0165

Perbaikan GOR dan Pemutakhiran Data Bansos Jadi Prioritas APBD 2027

Rabu, 29 Juli 2026 594

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Muhammad Taufik Zoelkifli

Data Akurat Sensus Ekonomi Perkuat Kebijakan Pemprov DKI

Senin, 13 Juli 2026 714

IMG 20260616 WA0056

DPRD dan BPS Dorong Pelaku Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Selasa, 16 Juni 2026 879

BERITA POPULER
Penertiban PKL Sungai Bambu anita 01

Personel Gabungan Kembalikan Fungsi Trotoar dan Saluran di Jalan Sungai Bambu

Rabu, 21 Oktober 2026 2880

LRT jakarta jati2

Kapasitas LRT Diminta Ditambah Usai Transportasi Publik Semakin Terhubung

Senin, 26 Oktober 2026 1152

Keseruan Hari Pertama Jakarta Running Festival 2026 1

Hari Pertama JRF 2026, Kualitas Udara Jakarta Lebih Nyaman

Sabtu, 24 Oktober 2026 1660

Penataan Lahan Jadi Taman Interaktif Cijantung nurito

Lahan Tidur di Cijantung Jadi Taman Interaktif Diapresiasi Warga

Jumat, 23 Oktober 2026 1656

Munjirin Tinjau Ring Tinju Flyover Kampung Melayu

Munjirin Tinjau Ring Tinju di Kolong Flyover Kampung Melayu

Senin, 26 Oktober 2026 864

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks