Selasa, 11 Agustus 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 55
(Foto: Budhi Firmansyah Surapati)
Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, Selasa (11/8), mengkonsolidasikan strategi percepatan penurunan stunting bersama kader Posyandu, Dasawisma, organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta dunia usaha. Kegiatan yang digelar secara luring dan daring ini dipimpin Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Ali Murtadho.
Ali mengatakan, stunting merupakan tantangan pembangunan yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
Investasi besar mewujudkan generasi emas
Menurutnya, stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan erat dengan perkembangan otak, kecerdasan, produktivitas, kesehatan, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Anak mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar lebih rendah, produktivitas menurun dan rentan mengalami penyakit tidak menular ketika dewasa. Sebab itu, percepatan penurunan stunting merupakan investasi besar mewujudkan generasi emas Indonesia 2045," katanya.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, ungkap Ali, prevalensi stunting di Provinsi DKI Jakarta berada pada angka 17,2 persen.
Lantaran itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat berbagai langkah strategis agar dapat menurunkan angka prevalensi 15 persen pada 2026 dan 12,8 persen pada 2029.
Diakui Ali, mencapai target tersebut tentu bukan pekerjaan mudah. Namun Ia optimistis semangat kolaborasi dan gotong royong di Kota Administrasi Jakarta Barat mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target Provinsi DKI Jakarta.
"Untuk itu, kita harus memastikan bahwa seluruh intervensi berjalan secara terintegrasi mulai dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan hingga RT, RW, dan keluarga," tegasnya.
Kepala Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Barat, Dian Anggraini Susanty menjelaskan, prevalensi stunting di Jakarta Barat tercatat sebesar 2,23 persen atau sebanyak 1.692 balita, dengan sekitar 72.000 keluarga berisiko stunting yang masih memerlukan perhatian dan intervensi.
Kondisi tersebut, menurut Dian, menunjukkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting perlu terus diperkuat melalui intervensi yang komprehensif dan konvergen.
Sebab itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat terus melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan stunting dengan berkolaborasi yang melibatkan unsur pemerintah, dunia usaha, dunia Pendidikan dan masyakat.
"Kegiatan ini digelar sebagai forum koordinasi untuk menyamakan persepsi, meningkatkan pemahaman, mengevaluasi pelaksanaan program, mengidentifikasi berbagai permasalahan dan kendala di lapangan," tukasnya.
Diharapkan, forum ini mampu menyusun langkah tindak lanjut secara terpadu dalam rangka mendukung pencapaian target percepatan penurunan stunting di Kota Administrasi Jakarta Barat.
"Diharapkan hasil rakor dapat ditindaklanjuti secara terpadu dan berkelanjutan guna mendukung percepatan penurunan stunting di Jakarta Barat," tandasnya.