Senin, 10 Agustus 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 85
(Foto: Istimewa)
Rencana pengalihan layanan transportasi laut dari Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta kepada PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai tahun 2027 mendapat sambutan positif dari masyarakat Kepulauan Seribu.
"Kepastian jadwal juga penting"
Kehadiran layanan tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus menghadirkan akses transportasi yang lebih merata bagi masyarakat di wilayah kepulauan.
Salah seorang warga Pulau Sabira, Agung menyambut positif rencana pengalihan pengelolaan transportasi laut kepada Transjakarta.
Ia menuturkan, saat ini kapal Dishub hanya beroperasi tiga kali dalam sepekan sehingga menyulitkan mobilitas warga, terutama mereka yang membutuhkan layanan kesehatan secara rutin di rumah sakit daratan Jakarta.
"Kami sangat berharap jadwal kapal bisa ditingkatkan menjadi setiap hari dengan harga semakin terjangkau. Selain untuk kebutuhan kesehatan, kepastian jadwal juga penting bagi wisatawan yang ingin berkunjung agar tidak khawatir kesulitan mendapatkan tiket untuk perjalanan pulang," ujarnya, Senin (10/8).
Menurutnya, keterbatasan akses transportasi juga berdampak langsung terhadap perekonomian warga. Banyak wisatawan, termasuk pemancing, membatalkan kunjungan karena tidak adanya kepastian tiket. Kondisi ini turut berimbas pada menurunnya pendapatan pemilik homestay dan penyedia jasa kapal nelayan.
Agung berharap, PT Transjakarta dapat menerapkan sistem tiket elektronik (tapping) yang transparan dan mudah diakses. Sehingga, warga maupun wisatawan tidak lagi mengalami kesulitan dalam mendapatkan tiket serta dapat mencegah praktik percaloan.
"Kami berharap Transjakarta juga bisa menyediakan transportasi antarpulau. Mungkin bisa bersinergi dengan kapal tradisional milik warga untuk masuk dalam sistem JakLingko Laut," terangnya.
Anggota Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu, Munawar Salagau menyebut, integrasi transportasi antarpulau merupakan layanan yang sudah lama dinantikan masyarakat.
Ia mengusulkan agar kapal tradisional milik warga dapat disinergikan dengan sistem transportasi yang akan dikelola Transjakarta dan difungsikan sebagai konsep JakLingko.
"Harapannya kapal tradisional bisa dijadikan JakLingko-nya laut. Jadi, Transjakarta melayani rute utama, sedangkan kapal tradisional melayani pengiriman logistik dan suplai BBM hingga ke pulau-pulau permukiman," bebernya.
Ia menambahkan, keberadaan kapal tradisional tetap dibutuhkan, terutama saat terjadi lonjakan wisatawan pada masa libur panjang. Dalam kondisi tersebut, jumlah penumpang dapat mencapai ribuan orang sehingga tidak akan terlayani secara optimal jika hanya mengandalkan kapal dinas.
"Ibaratnya Transjakarta sebagai bus besar, kapal tradisional sebagai angkot atau JakLingko, dan speedboat swasta sebagai layanan premium. Sehingga, pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan tetap terpenuhi secara merata," ucapnya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan menyampaikan, kehadiran Transjakarta di perairan Jakarta merupakan bentuk perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terhadap masyarakat Kepulauan Seribu.
Kemudahan akses transportasi akan berdampak langsung terhadap mobilitas warga, terutama dalam memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, serta menunjang aktivitas ekonomi.
"Kami mewakili warga Kepulauan Seribu menyampaikan terima kasih atas perhatian Bapak Gubernur. Integrasi transportasi ini mencerminkan rasa keadilan," tandasnya.