Kamis, 21 Mei 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 104
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Selatan mencatat hingga pertengahan Mei 2026 sudah membuat 345 lubang biopori jumbo dan 40 teba modern di lingkungan permukiman warga maupun kantor pemerintahan.
"Pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat"
Kepala Suku Dinas LH Jakarta Selatan, Dedy Setiono mengatakan, pembuatan lubang biopori jumbo tersebut bertujuan menekan timbulan sampah organik rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
"Program ini merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber," ujarnya, Kamis (21/5).
Dedy menjelaskan, pembangunan lubang biopori jumbo dan teba modern tersebar di 10 kecamatan. Kecamatan Cilandak menjadi wilayah dengan jumlah pembangunan terbanyak, yakni 87 titik. Selanjutnya, Jagakarsa 42 titik, Kebayoran Baru 38 titik, Kebayoran Lama 23 titik, dan Mampang Prapatan 42 titik.
"Untuk Kecamatan Pancoran sudah ada 46 titik, Pasar Minggu 31 titik, Pesanggrahan 24 titik, Setiabudi 21 titik, serta Tebet 31 titik lubang biopori jumbo dan teba modern," terangnya.
Dedy menambahkan, pihaknya telah mendistribusikan 2.300 tong biopori dari total 2.400 tong yang tersedia. Seluruh pembangunan lubang biopori ditargetkan rampung pada awal Juni 2026.
Selain pembangunan sarana pengolahan sampah organik, Suku Dinas LH Jakarta Selatan juga terus menggencarkan sosialisasi pemilahan sampah dari meja makan kepada masyarakat, lurah, camat, dan berbagai unsur terkait lainnya.
"Kami berharap pengelolaan sampah yang dilakukan masyarakat dan pemerintah dapat berjalan optimal. Sehingga, penghentian pembuangan sampah umum ke TPST Bantar Gebang pada 1 Agustus 2026 dapat terlaksana dengan baik," tandasnya.