Kamis, 14 Mei 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 109
(Foto: Istimewa)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berupaya memperkuat langkah menuju kota global melalui kolaborasi budaya internasional bersama Kota Milan, Italia. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Leadership Exchange Programme Jakarta–Milan yang difasilitasi World Cities Culture Forum.
Kegiatan yang berlangsung di Museo Delle Culture (MUDEC), Milan, pada 9–16 Mei, dihadiri langsung Wakil Gubernur Rano Karno, didampingi Muhammad Aidil Usman dari Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta, Mochammad Shabar Untung selaku Ketua Jakarta Mural Community, serta Lambertus Berto Tukan dari Tim Kurator Jakarta 500 sekaligus Gudskul.
Ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Jakarta dan Milan
Sementara, Pemerintah Kota Milan diwakili Marina Pugliese, serta Isabella Valentini dari World Cities Culture Forum.
"Program ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara Jakarta dan Milan dalam pengembangan kebijakan budaya, seni publik, serta aktivasi ruang kota," kata Rano, Rabu (13/5).
Tahun ini, jelas Rano, Jakarta menjadi salah satu dari 19 kota dunia yang terpilih dalam program tersebut dengan mengangkat tema “Public Art and Co-Creation”. Melalui tema tersebut, Jakarta dan Milan mendorong pengembangan seni publik berbasis komunitas melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi budaya, komunitas kreatif, seniman, dan masyarakat.
Dalam program ini, delegasi Jakarta juga mempelajari berbagai praktik Kota Milan dalam pengelolaan museum, seni publik, serta aktivasi ruang kota yang menjadikan budaya sebagai bagian hidup dari keseharian masyarakat.
"Jakarta ingin belajar dari kota-kota dunia yang berhasil menjadikan seni dan budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan kota,' ungkap Rano.
Jakarta, tegas Rano, ingin menghadirkan ruang publik yang hidup melalui seni dan budaya, sekaligus membuka ruang kolaborasi kreatif bagi masyarakat dan seniman.
"Kota global bukan hanya soal gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memiliki ruang untuk berekspresi, berinteraksi, dan merasa bangga terhadap identitas kotanya,” katanya.
Selain pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarkota, program ini juga membuka peluang pengembangan proyek instalasi seni publik di Jakarta. Proyek tersebut direncanakan melibatkan seniman lokal Jakarta bersama mitra dan praktisi budaya dari Milan sehingga karya yang dihasilkan lahir dari proses kolaborasi, dialog, dan pertukaran gagasan antarkomunitas.
Ke depan, seniman dan praktisi budaya dari Milan direncanakan hadir di Jakarta dalam rangkaian Leadership Exchange Programme Jakarta pada 18–24 Juli 2026. Kehadiran mereka akan diisi dengan kegiatan lokakarya, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan karya instalasi seni publik bersama seniman Jakarta.
Dikatakan Rano, Pemprov DKI Jakarta memandang seni publik bukan sekadar elemen estetika kota, melainkan bagian penting dalam membangun ruang interaksi masyarakat, memperkuat identitas budaya kota, meningkatkan daya tarik wisata, serta mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif.
"Kehadiran karya seni di ruang publik dapat membuat kota terasa lebih hidup, humanis, dan dekat dengan warganya," tukas Rano.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Rano juga melakukan diskusi strategis bersama Isabella Valentini terkait penguatan kolaborasi budaya dan peluang pengembangan kerja sama kota kreatif antara Jakarta dan jejaring kota dunia.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan ruang publik Jakarta yang lebih inklusif, kreatif, dan merepresentasikan identitas Jakarta sebagai kota global yang modern, namun tetap berakar kuat pada karakter serta budaya lokalnya