Senin, 04 Mei 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 289
(Foto: Bilal Nugraha Ginanjar)
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan visi Jakarta untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, kemajuan dan jalan kemanusiaan.
"Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan tembok. Pendidikan harus menjadi pintu, bukan pagar," tegas Rano, saat memberi sambutan dalam Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional tingkat Provinsi 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/5).
"Pendidikan harus menjadi jembatan, bukan tembok"
Ditegaskan Rano, pihaknya terus berupaya maksimal agar tak ada lagi anak di Jakarta yang tertinggal pendidikannya hanya karena keadaan dan terkunci karena persoalan biaya, ijazah, akses atau bencana.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ungkap Rano, terus menghadirkan beberapa langkah nyata untuk memajukan pendidikan nasional.
Berbagai program pendidikan telah diterapkan Pemprov DKI Jakarta, di antaranya program pemutihan ijazah bagi pelajar kurang mampu, mulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, SMK, hingga PKBM
Bekerjasama dengan Baznas Bazis DKI Jakarta, jelas Rano, pada tahap pertama 2026 ini pihaknya akan membagikan ijazah kepada 2.026 peserta didik.
Kemudian, Pemprov DKI Jakarta pada hari ini juga melepas 561 alumni SMK untuk bekerja di Jepang, Malaysia, dan Jerman. Diharapkannya, mereka tidak hanya membawa semangat keterampilan dan disiplin, tapi juga mampu membawa nama baik Jakarta dan Indonesia.
Dikatakan Rano, Hari Pendidikan Nasional adalah lonceng kesadaran dan panggilan moral yang mengingatkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak semata-mata dibangun gedung-gedung tinggi, jalan-jalan besar atau pusat ekonomi yang megah. Tetapi oleh ruang kelas yang menyala, guru-guru yang tidak lelah menuntun anak-anak meraih mimpi.
"Pendidikan adalah jalan panjang untuk memerdekakan manusia. Itulah roh besar yang diwariskan Ki Hajar Dewantara," tukas Rano.
Dilanjutkan Rano, Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala. Tetapi juga menyalakan budi pekerti, membentuk watak, menumbuhkan keberanian dan memuliakan martabat manusia.
"Ki Hajar Dewantara meninggalkan pesan yang terus hidup dalam denyut dunia pendidikan kita yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani," jelas Rano.
Kalimat itu dikatakannya memiliki makna di depan seorang pendidik memberi teladan, di tengah Ia membangun semangat, di belakang ia memberi dorongan sebagai filosofi yang harus terus dihidupkan di Jakarta.
Rano juga menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada guru. Menurutnya, mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga penjaga api peradaban.
"Setiap murid yang berhasil bangkit dan menemukan arah hidup, setiap keluarga yang masa depannya berubah karena pendidikan, di sana ada jejak sunyi seorang guru," ucap Rano.