Minggu, 06 September 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 490
(Foto: Istimewa)
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, mengimbau masyarakat untuk melindungi saluran pernapasan dan mata dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Karakatau yang mencapai wilayah Jakarta.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawari mengatakan, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa lantaran partikelnya berukuran sangat kecil dan dapat mengandung silika serta material kaca vulkanik yang bersifat abrasif.
Utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung
Jika terhirup atau mengenai bagian tubuh tertentu, kata Ani, abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata dan kulit.
Disebutkan Ani, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Paparan juga dapat menimbulkan iritasi pada mata berupa perih, mata merah, dan rasa mengganjal. Sedangkan pada kulit, abu dapat menyebabkan gatal dan iritasi.
"Sebab itu masyarakat diimbau untuk melakukan beberapa langkah perlindungan. Terutama saat abu vulkanik berada di lingkungan sekitar," katanya, Minggu (6/9).
Berbagai upaya perlindungan yang perlu diperhatikan seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat konsentrasi abu meningkat. Lalu tutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Jika harus bepergian, Ani mengingatkan warga agar menggunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus dan menggunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu.
Setelah kembali ke rumah, diimbau agar mandi dan keramas serta segera mengganti pakaian, cuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah, serta bila diperlukan, bilas mata dan hidung dengan air bersih.
Kemudian bagi masyarakat yang melakukan pembersihan abu vulkanik di teras rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar, diimbau agar gunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup.
"Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit," tegasnya.
Selanjutnya, Dinkes juga mengimbau masyarakat agar tidak menyapu abu dalam kondisi kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup. Sebelum menyapu, diimbau percikkan air secukupnya agar abu menjadi lebih berat dan tidak mudah beterbangan.
"Setelah selesai melakukan aktivitas di lingkungan yang terpapar abu, disarankan untuk melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk ke rumah, mandi dan keramas," saran Ani.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, untuk lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung," tandasnya.