Selasa, 01 September 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 366
(Foto: Andri Widiyanto)
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan mengadakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terintegrasi dengan penelusuran kasus Tuberkulosis (TB) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kampung Perigi, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama.
"Dapat langsung mengidentifikasi kasus"
Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, mengatakan, penanganan TB membutuhkan perhatian serius mengingat penyakit tersebut dapat menular dengan cepat apabila pasien tidak teridentifikasi sejak dini.
Menurutnya, jika salah satu pasien TB tidak teridentifikasi dengan baik, potensi penularannya sangat masif di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
"Melalui CKG yang dikombinasikan dengan penanggulangan TB ini, kami dapat langsung mengidentifikasi kasus dan memberikan penanganan tindak lanjut," ujarnya," Selasa (1/9).
Syafrin menjelaskan, CKG pada dasarnya diselenggarakan di fasilitas kesehatan (faskes). Namun, untuk menjangkau warga yang memiliki keterbatasan akses ke faskes, Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan menyiapkan 631 lokasi pemeriksaan yang berada lebih dekat dengan permukiman warga, termasuk di RPTRA.
Untuk mengoptimalkan penjangkauan masyarakat, Pemkot Jakarta Selatan juga menggerakkan kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan camat, lurah, ketua RT/RW, kader Posyandu, dan kader Dasawisma.
"Saya mengimbau masyarakat proaktif melakukan cek kesehatan gratis. Lebih baik mencegah dan mendeteksi dini daripada mengobati setelah sakit, karena proses pengobatan TB itu panjang dan dapat mengganggu aktivitas," terangnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri memaparkan, integrasi CKG dengan penanggulangan TB merupakan instruksi pemerintah pusat yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
"Di Jakarta Selatan, sebanyak 631 lokasi pemeriksaan ditargetkan dapat menjaring masing-masing 100 peserta setiap hari," ungkapnya.
Ia memaparkan, pemeriksaan diawali dengan proses pendaftaran, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan umum, seperti pengecekan gula darah, tekanan darah, dan pengukuran tinggi badan.
Peserta selanjutnya menjalani pemeriksaan dahak menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM) serta pemeriksaan rontgen paru melalui layanan X-Ray Mobile.
"Dari 100 peserta yang hadir, sekitar 50 persen di antaranya merupakan kelompok Lansia karena warga usia produktif umumnya sedang bekerja. Namun, kami tetap berupaya mengundang kelompok usia produktif pada hari Sabtu agar dapat datang ke puskesmas terdekat," bebernya.
Debi menuturkan, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi TB pada warga yang tidak memiliki gejala klinis, tenaga medis akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) selama enam bulan untuk mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi TB berat.
"Kami mengajak seluruh unsur masyarakat untuk terus menggaungkan pentingnya menghapus stigma negatif terhadap pasien TB," ucapnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar adalah stigma, baik dari lingkungan maupun rasa takut pasien sendiri. Padahal, pasien TB yang meminum obat secara teratur tidak akan menularkan penyakitnya lagi setelah dua minggu pertama masa pengobatan.
"Penggunaan masker dan etika batuk yang benar juga efektif mencegah penularan. Stigma ini harus kita hapus bersama," tandasnya.