Kamis, 25 Juni 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 226
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Semangat mengubah sampah menjadi sumber manfaat nyata ditunjukkan warga RT 11/07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
"Gerakan perubahan perilaku masyarakat"
Melalui berbagai inovasi berbasis komunitas, Ketua RT 11/07, Kelurahan Gandaria Utara, Imam Basori meluncurkan program pengelolaan sampah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat.
Mengusung tema "Mengubah Sampah Menjadi Berkah", tiga inovasi resmi diperkenalkan, yakni Kompos Keliling (KomLing), Smart Geprek, dan jingle edukatif "KomLing Mania".
Imam menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
"Program ini merupakan bagian dari gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga," ujarnya, Kamis (25/6).
Imam menjelaskan, salah satu inovasi unggulan adalah KomLing, layanan penjemputan sampah organik menggunakan gerobak listrik. Melalui sistem jemput bola ini, sampah dapur seperti sisa makanan dan sayuran tidak lagi berakhir di tempat pembuangan sampah, melainkan diolah menjadi kompos yang bermanfaat.
"Kami mencoba menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya, yaitu dapur rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran akan dijemput langsung melalui KomLing untuk diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan," terangnya.
Menurutnya, pendekatan tersebut mempermudah partisipasi warga sekaligus meningkatkan kesadaran untuk memilah sampah organik sejak dari rumah.
Selain itu, inovasi Smart Geprek hadir sebagai solusi pengelolaan sampah anorganik. Alat berbasis teknologi ini digunakan untuk memadatkan botol plastik dan kaleng minuman sebelum disetorkan ke bank sampah.
"Proses penyimpanan dan pengangkutan menjadi lebih efisien, sekaligus meningkatkan nilai ekonominya," ungkapnya.
Tidak hanya mengandalkan teknologi, kampanye perubahan perilaku juga diperkuat melalui jingle "KomLing Mania".
"Lagu edukatif tersebut dirancang agar pesan penting tentang pemilahan sampah dapat lebih mudah diterima dan diingat oleh masyarakat," ucapnya.
Apresiasi terhadap inovasi ini disampaikan Camat Kebayoran Baru, Rahmat Mulyadi. Ia menilai program KomLing menjadi contoh nyata penyelesaian persoalan sampah dari tingkat paling dasar, yakni rumah tangga.
"Kalau sampah selesai di rumah tangga, tidak ada sampah di RT. Kalau tidak ada sampah di RT, tidak ada sampah di RW. Kalau tidak ada sampah di RW, tidak ada sampah di kelurahan. Artinya, Jakarta bisa bebas sampah," bebernya.
Ia menambahkan, konsep penjemputan sampah organik menggunakan gerobak keliling merupakan terobosan yang masih jarang dilakukan. Sistem tersebut dinilai mampu menjawab persoalan pemilahan sampah yang selama ini sering kembali tercampur saat proses pengangkutan.
Rahmat berharap, kolaborasi antara warga, pengurus lingkungan, dan pemerintah melalui program KomLing, Smart Geprek, serta KomLing Mania dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Jakarta.
"Program ini tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga membangun budaya gotong royong serta ekonomi sirkular di tengah masyarakat perkotaan," tandasnya.