Rabu, 13 Mei 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 224
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menyosialisasikan rencana penutupan perlintasan kereta api liar di jalur antara Stasiun Tebet, Cawang, dan Manggarai. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kecelakaan di perlintasan sebidang yang tidak memiliki sistem pengamanan memadai.
"Rencana 11 titik"
Sebagai tahap awal, Pemkot Jakarta Selatan bersama PT KAI memasang spanduk peringatan di sejumlah titik perlintasan liar di jalur Tebet-Cawang. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat sekitar juga terus dilakukan.
Wakil Camat Tebet, Bayu Fadayen Gantha mengatakan, sebelum pelaksanaan penutupan, pihaknya telah melakukan survei di sejumlah titik perlintasan liar atau perlintasan yang tidak dijaga.
"Sudah disurvei, setidaknya ada 11 titik yang membahayakan. Namun, prioritas kami sekarang masih untuk pengguna jalan," ujarnya, Rabu (13/5).
Bayu menjelaskan, koordinasi bersama PT KAI terus dilakukan untuk menentukan titik perlintasan yang akan ditutup maupun yang masih dipertahankan dengan sejumlah penguatan pengamanan.
Menurutnya, penguatan tersebut mencakup penambahan personel hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP) untuk menjaga keselamatan pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
"Kami masih fokus untuk jalur perlintasan Tebet-Cawang, sedangkan jalur Tebet-Manggarai akan menyusul. Penutupan di Tebet-Manggarai kemungkinan dilakukan setelah penutupan di Tebet-Cawang dilaksanakan," terangnya.
Kepala Stasiun Tebet, Muhammad Zul Faroki menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah di Kecamatan Tebet dalam upaya penataan perlintasan liar tersebut.
"Mudah-mudahan nanti ada perlintasan liar yang bisa kita tutup bersama. Rencana 11 titik di antara Stasiun Tebet dan Cawang, terus kami koordinasikan secara intensif," ucapnya.
Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Kebon Baru, Eva (34) mengaku mendukung rencana penutupan perlintasan liar tersebut karena dinilai dapat mengurangi risiko kecelakaan.
"Perlintasan tidak resmi sangat berbahaya, terutama karena banyak warga masih nekat melintas meski kereta sudah mendekat. Lebih baik ditutup supaya tidak ada kejadian kecelakaan kereta dengan pengendara atau pejalan kaki," tandasnya.