Selasa, 05 Mei 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 279
(Foto: Doc)
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) di Jakarta pada April 2026 sebesar 2,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,68.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto menyampaikan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga pada seluruh kelompok pengeluaran.
"Kenaikan tertinggi pada kelompok perawatan pribadi,"
“Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,58 persen,” ujarnya, Selasa (5/5).
Selanjutnya, kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,35 persen; kelompok pendidikan 2,17 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,89 persen; kelompok pakaian dan alas kaki 1,79 persen; serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,69 persen.
Kemudian, kelompok transportasi naik 1,61 persen; kelompok kesehatan 1,60 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,14 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,39 persen; serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,28 persen.
Sementara itu, tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada April 2026 tercatat sebesar 0,21 persen, sedangkan inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,12 persen.
Berdasarkan pemantauan harga pada kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di DKI Jakarta, IHK juga mengalami kenaikan dari 107,40 pada April 2025 menjadi 109,68 pada April 2026.
Sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, minyak goreng, tarif ojek online roda dua, biaya pendidikan (SD dan SMP), daging sapi, ayam goreng, hingga tarif pulsa ponsel. Komoditas lain seperti kopi bubuk, parfum, sewa rumah, dan upah asisten rumah tangga juga turut memberikan andil.
Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, telepon seluler, kentang, tahu mentah, serta beberapa produk kebersihan seperti deterjen cair, pembersih lantai, dan pengharum cucian.
Pada sisi month-to-month (m-to-m), inflasi terutama didorong oleh angkutan udara, beras, ayam goreng, minyak goreng, bensin, tarif kereta api, nasi dengan lauk, kopi bubuk, serta beberapa kebutuhan rumah tangga seperti kasur, lemari pakaian, dan laptop.
“Adapun komoditas yang menahan laju inflasi m-to-m antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, serta sejumlah sayuran seperti bayam, kangkung, dan kacang panjang,” kata Kadarmanto.
Secara keseluruhan, kontribusi inflasi y-on-y menurut kelompok pengeluaran di DKI Jakarta berasal dari perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,82 persen; makanan, minuman, dan tembakau 0,45 persen; transportasi 0,22 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,17 persen; dan pendidikan 0,14 persen.
Kemudian pakaian dan alas kaki 0,08 persen; perlengkapan rumah tangga 0,07 persen; perumahan 0,06 persen; kesehatan 0,05 persen; serta masing-masing 0,03 persen dari kelompok informasi, komunikasi, jasa keuangan serta rekreasi, olahraga, dan budaya.