Sabtu, 18 April 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 180
(Foto: Ilustrasi)
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M Taufik Zoelkifli menilai, Pemprov DKI perlu memperkuat peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan dalam menjaga stabilitas harga, terutama di tengah ancaman fenomena El Nino Godzila yang diprediksi berlangsung pertengahan April hingga Oktober 2026.
Menurut dia, BUMD seperti Food Station tidak cukup hanya berfungsi sebagai pedagang beras, tetapi harus bertransformasi menjadi penjaga stabilitas harga (price stabilizer).
"Cadangan pangan daerah harus aktif,"
“BUMD pangan jangan hanya jadi trader, tapi harus berperan sebagai pengendali harga agar tetap stabil di masyarakat,” ujarnya, Sabtu (18/4).
Taufik menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat cadangan pangan daerah. Namun, cadangan tersebut tidak boleh bersifat pasif, melainkan harus dikelola secara dinamis dan taktis.
Saat harga mulai naik, cadangan pangan harus segera dilepas ke pasar. Sebaliknya, ketika harga turun, stok dapat ditahan untuk menjaga keseimbangan.
“Cadangan pangan daerah harus aktif. Ketika harga naik, kita intervensi dengan melepas stok, dan saat harga turun kita tahan,” jelasnya.
Selain itu, Taufik mendorong adanya kontrak pasokan jangka menengah dengan daerah produsen. Langkah ini penting agar Jakarta tidak bergantung pada mekanisme pasar sesaat (spot market), terutama saat terjadi kelangkaan.
Dengan skema tersebut, pasokan beras dapat dipastikan bahkan sebelum masa panen tiba.
“Jadi sebelum panen, kita sudah punya kepastian pasokan melalui kerja sama dengan daerah produsen. Ini untuk menghindari rebutan barang di pasar saat kondisi krisis,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pasokan pangan. Jakarta, kata dia, tidak boleh bergantung pada satu daerah produksi saja, melainkan harus memiliki alternatif dari berbagai wilayah.
“Kalau satu daerah mengalami gagal panen atau kekeringan, kita masih punya pasokan dari daerah lain,” ungkapnya.
Di sisi hilir, distribusi pangan perlu diperkuat melalui perluasan operasi pasar murah serta pemanfaatan sistem distribusi digital guna menekan spekulasi harga.
Pada akhirnya, Taufik menegaskan bahwa sistem pangan Jakarta harus bertransformasi dari yang bersifat reaktif menjadi lebih antisipatif dan adaptif.
“Jakarta tidak boleh hanya reaktif. Kita harus membangun sistem pangan yang antisipatif dan adaptif terhadap berbagai tantangan, termasuk El Nino,” tandasnya.