Ini Alasan Penghapusan Sanksi dalam Raperda Pembangunan Keluarga

Rabu, 15 April 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 840

IMG 20260414 WA0155

(Foto: Fakhrizal Fakhri)

Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pembangunan Keluarga yang telah rampung dibahas di tingkat Bapemperda DPRD DKI Jakarta tidak lagi memuat ketentuan sanksi bagi orang tua yang menelantarkan anak.

Ketua Subkelompok Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kesejahteraan Rakyat Biro Hukum Setda DKI Jakarta, Afifi menjelaskan, penghapusan sanksi tersebut sejalan dengan pendekatan yang diusung dalam Raperda Pembangunan Keluarga, yakni promotif dan preventif.

"mengedepankan upaya pencegahan,"

“Paradigma Raperda ini adalah promotif dan preventif. Artinya, pemerintah daerah didorong untuk mengedepankan upaya pencegahan agar tidak muncul keluarga rentan atau tidak produktif,” ujar Afifi, Rabu (15/4).

Menurut dia, pendekatan tersebut menempatkan Pemprov DKI Jakarta pada upaya pencegahan berbagai persoalan keluarga, tanpa mengutamakan penjatuhan sanksi administratif.

Afifi juga menyinggung usulan sebelumnya yang sempat mengadopsi kebijakan Pemerintah Kota Surabaya terkait sanksi penonaktifan Nomor Induk Kependudukan (NIK) bagi pihak yang tidak memenuhi kewajiban keluarga. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan di Surabaya memiliki konteks berbeda karena didasarkan pada Nota Kesepahaman (MoU) serta pelaksanaan putusan pengadilan.

“Penonaktifan NIK di Surabaya dilakukan dalam rangka eksekusi putusan pengadilan, bukan kebijakan administratif murni dari pemerintah daerah,” jelasnya.

Afifi menambahkan, jika ketentuan tersebut dipaksakan masuk ke dalam Perda Pembangunan Keluarga, maka berpotensi menimbulkan persoalan hukum karena dapat dianggap mencampuri kewenangan lembaga peradilan.

Selain itu, belum tentu terdapat kesepakatan kerja sama antara pemerintah daerah dan pengadilan sebagai dasar pelaksanaan kebijakan tersebut.

“Kalau dimasukkan dalam Perda, tetapi tidak ada kerja sama dengan pengadilan, maka aturan itu berpotensi tidak dapat dilaksanakan. Ini tidak sejalan dengan asas pembentukan peraturan perundang-undangan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011,” tandas Afifi.

Setelah pembahasan di tingkat Bapemperda rampung, draf Raperda Pembangunan Keluarga selanjutnya akan dibawa ke Rapat Pimpinan Gabungan (Rapimgab), sebelum memasuki tahap fasilitasi di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

BERITA TERKAIT
IMG 20260408 WA0015

Bapemperda Masukkan Edukasi Pranikah dalam Raperda Pembangunan Keluarga

Rabu, 08 April 2026 709

IMG 20260331 WA0079

Bapemperda DKI Kupas Pasal Raperda Pembangunan Keluarga

Selasa, 31 Maret 2026 967

1.Rano Karno Hadiri Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta

Rano: Keluarga Sejahtera dan Berketahanan Pilar Utama Pembangunan

Senin, 09 Maret 2026 869

BERITA POPULER
Penertiban PKL Sungai Bambu anita 01

Personel Gabungan Kembalikan Fungsi Trotoar dan Saluran di Jalan Sungai Bambu

Rabu, 21 Oktober 2026 2347

Puskesmas matraman otoy

Surveilans Influenza A di Jakarta Diperkuat, Warga Diimbau Tetap Tenang dan Waspada

Jumat, 16 Oktober 2026 3827

Konpers Jakarta Esports 2026 ist

Jakarta Esports 2026 Hadirkan Panggung Game Lokal, Musik, dan Kreativitas

Senin, 19 Oktober 2026 2644

Bpbd omc ist

Antisipasi Cuaca Panas, Pemprov DKI Siapkan OMC Jelang JRF dan Konser Kanye West

Rabu, 21 Oktober 2026 1122

Edukasi Pilah Sampah pulau panggang anita

Warga Kelurahan Pulau Panggang Diajak Gencarkan Pilah Sampah

Selasa, 20 Oktober 2026 1198

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks