Jumat, 27 Maret 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 191
(Foto: Anita Karyati)
Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara terus mendorong optimalisasi pengelolaan sampah melalui program percontohan (pilot project) pemilahan sampah 100 persen di wilayah Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing.
"Pengelolaan sampah berkelanjutan"
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Kota Jakarta Utara, Wawan Budi Rohman mengatakan, progres pengelolaan sampah di Rorotan menunjukkan perkembangan positif.
Wilayah ini dipilih karena lokasinya yang berdekatan dengan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, sehingga dinilai strategis sebagai percontohan pengelolaan sampah terpadu.
"Target kami di bulan April sebanyak 14 RW di Rorotan seluruhnya sudah mampu melakukan pemilahan sampah secara mandiri sehingga manfaat fasilitas RDF dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Jakarta Utara," ujarnya, Jumat (27/3).
Ia menambahkan, sebanyak 11.000 ember pemilahan sampah telah didistribusikan kepada setiap Kepala Keluarga (KK).
"Sebanyak empat tong drop point juga disediakan di setiap RT untuk memudahkan warga dalam menempatkan sampah terpilah," terangnya.
Menurutnya, upaya ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Lingkungan Hidup RI. Namun demikian, partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
"Program ini diharapkan mampu menjadi fondasi pengelolaan sampah berkelanjutan, tidak hanya pada tahap pemilahan, tetapi juga hingga proses pengolahan yang tepat guna," ungkapnya.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan dukungannya agar Kelurahan Rorotan dapat menjadi contoh nasional dalam pemilahan sampah dari sumbernya.
"Pembangunan fasilitas Waste to Energy membutuhkan investasi besar. Sehingga, harus didukung dengan sistem pemilahan sampah yang optimal, khususnya pemisahan antara sampah organik dan non-organik," bebernya.
Ia memaparkan, Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah per hari. Sementara itu, kapasitas pengolahan melalui fasilitas RDF di Rorotan mencapai 2.500 ton per hari dan di Bantargebang sekitar 2.000 ton per hari, sehingga total 4.500 ton sampah sudah dapat dikelola.
"Artinya, hampir separuh sampah Jakarta sebenarnya sudah bisa tertangani. Sisanya, terutama sampah organik, bisa diselesaikan di tingkat rumah tangga tanpa harus menunggu pembangunan Waste to Energy," ucapnya.
Hanif juga mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mempercepat persiapan pembangunan fasilitas Waste to Energy, khususnya terkait penyediaan lahan yang dinilai masih menjadi kendala.
"Saya berharap melalui kolaborasi lintas sektor, seluruh persiapan proyek ini dapat segera diselesaikan agar pembangunan Waste to Energy bisa segera direalisasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," imbuhnya.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto menuturkan, program piloting ini dilaksanakan secara bertahap di wilayah Jakarta Utara, dengan fokus awal di Kecamatan Cilincing. Hingga saat ini, progres pengumpulan sampah organik telah mencapai 20 ton dalam kurun waktu tiga minggu.
"Program ini diharapkan mampu menjadi model pengelolaan sampah berbasis sumber yang efektif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya pengurangan timbulan sampah di Jakarta Utara," kata Edy.
Sementara itu, Ketua RW 08, Kelurahan Rorotan, Ahmad Fauzi menyampaikan, pelaksanaan program tersebut telah berjalan di seluruh RT di wilayahnya yang berjumlah delapan RT.
Ia optimistis target pemilahan sampah 100 persen dapat tercapai pada akhir April dan menjadi kebiasaan baru bagi warga.
"Alhamdulillah, respons warga sangat positif dan cukup antusias. Hal ini tidak terlepas dari pendampingan intensif oleh kader Posyandu, Dasa Wisma, PKK, serta pengurus RW dan RT. Setiap rumah juga telah diberikan ember untuk mendukung pemilahan sampah," tandasnya.