Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

Senin, 20 April 2020 Reporter: Mustaqim Amna Editor: Andry 5288

Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

(Foto: doc)

Penyebaran arus informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dan ditunggu masyarakat di tengah wabah COVID-19. Tak terkecuali bagi para penyandang tuna rungu yang setiap harinya juga ingin mengetahui perkembangan informasi tersebut.

Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu

Di baiik kondisi itu, mungkin tidak banyak yang tahu jika pemenuhan informasi bagi tuna rungu tidak bisa tersampaikan tanpa adanya peran dari penerjemah bahasa isyarat seperti Edik Widodo (42). Pria yang tergabung dalam lembaga Indonesia Sign Language Interpreters (INASLI) dan bertugas di Beritajakarta.id ini hampir setiap hari menyiarkan informasi dari Pemprov DKI terkait perkembangan COVID-19 kepada para tuna rungu.

"Sejak saya menggeluti profesi ini pada tahun 1999, baru kali ini seorang penerjemah seperti saya secara langsung diminta hadir dalam konferensi pers. Langkah Pemprov DKI ini sangat brilian," kata Widodo saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/4).

Ia menuturkan, peran penerjemah bahasa isyarat biasanya memang digunakan sebagai penunjang lisan nara sumber saat menyampaikan informasi dalam konferensi pers. Dalam hal ini informasi yang disampaikan terkait dengan perkembangan COVID-19 yang sangat dinantikan para tuna rungu.

"Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu. Karena di layar televisi, fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah," ungkapnya.

Selama menjalani profesinya, Widodo juga didampingi konsultan dari kalangan tuna rungu yang telah melakukan survei terkait hasil kepuasan responden setelah melihat para penerjemah menyampaikan informasi di layar televisi.

"Tim saya ini lah yang terus mendampingi saya setiap jam kerja dari pukul 11.00 hingga 16.00 atau pukul 16.00 hingga pukul 19.00," terangnya.

Widodo mengakui pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat beresiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tuna rungu.

"Hal ini saya lakukan juga agar para tuna rungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Pengalaman Perawat di Koja Mulai dari Disoraki hingga Digoda Pasien

Kisah Anggota Tim Penyelidikan Epidemiologi COVID-19 di Koja

Sabtu, 18 April 2020 9657

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Kamis, 16 April 2020 21109

BERITA POPULER
IMG 20260714 WA0016

Pengemudi Truk Sampah Salahgunakan BBM Operasional di Cilincing Disanksi

Selasa, 14 Juli 2026 6981

Perlintasan kereta dok 1

Jalan Sebidang Pasar Minggu Ditarget Rampung Awal 2027

Kamis, 16 Juli 2026 1728

Kelurahan berprestasi fakhri

Kelurahan Berprestasi Jadi Penggerak Jakarta Menuju 20 Besar Kota Global

Senin, 13 Juli 2026 1938

Ima mahdia dprd dki

DPRD DKI Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi Daerah

Selasa, 14 Juli 2026 1633

IMG 20260713 WA0036

SDN Srengseng Sawah 15 Tetap Gelar Sekolah Tatap Muka

Senin, 13 Juli 2026 1711

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks