Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

Senin, 20 April 2020 Reporter: Mustaqim Amna Editor: Andry 5442

Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

(Foto: doc)

Penyebaran arus informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dan ditunggu masyarakat di tengah wabah COVID-19. Tak terkecuali bagi para penyandang tuna rungu yang setiap harinya juga ingin mengetahui perkembangan informasi tersebut.

Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu

Di baiik kondisi itu, mungkin tidak banyak yang tahu jika pemenuhan informasi bagi tuna rungu tidak bisa tersampaikan tanpa adanya peran dari penerjemah bahasa isyarat seperti Edik Widodo (42). Pria yang tergabung dalam lembaga Indonesia Sign Language Interpreters (INASLI) dan bertugas di Beritajakarta.id ini hampir setiap hari menyiarkan informasi dari Pemprov DKI terkait perkembangan COVID-19 kepada para tuna rungu.

"Sejak saya menggeluti profesi ini pada tahun 1999, baru kali ini seorang penerjemah seperti saya secara langsung diminta hadir dalam konferensi pers. Langkah Pemprov DKI ini sangat brilian," kata Widodo saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/4).

Ia menuturkan, peran penerjemah bahasa isyarat biasanya memang digunakan sebagai penunjang lisan nara sumber saat menyampaikan informasi dalam konferensi pers. Dalam hal ini informasi yang disampaikan terkait dengan perkembangan COVID-19 yang sangat dinantikan para tuna rungu.

"Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu. Karena di layar televisi, fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah," ungkapnya.

Selama menjalani profesinya, Widodo juga didampingi konsultan dari kalangan tuna rungu yang telah melakukan survei terkait hasil kepuasan responden setelah melihat para penerjemah menyampaikan informasi di layar televisi.

"Tim saya ini lah yang terus mendampingi saya setiap jam kerja dari pukul 11.00 hingga 16.00 atau pukul 16.00 hingga pukul 19.00," terangnya.

Widodo mengakui pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat beresiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tuna rungu.

"Hal ini saya lakukan juga agar para tuna rungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Pengalaman Perawat di Koja Mulai dari Disoraki hingga Digoda Pasien

Kisah Anggota Tim Penyelidikan Epidemiologi COVID-19 di Koja

Sabtu, 18 April 2020 9821

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Kamis, 16 April 2020 21223

BERITA POPULER
Petugas tj bantu warga ist2

Aksi Humanis Petugas Transjakarta Bantu Lansia Tuai Apresiasi

Kamis, 15 Oktober 2026 14278

Puskesmas matraman otoy

Surveilans Influenza A di Jakarta Diperkuat, Warga Diimbau Tetap Tenang dan Waspada

Jumat, 16 Oktober 2026 3174

Transjakarta penghargaan pusta karsa ist

Hattrick, Transjakarta Pertahankan Predikat Terbaik Pertama Pengelolaan Arsip

Kamis, 15 Oktober 2026 1776

Satriadi gunawan pol pp jati

Satpol PP Ungkap Kronologi Penyerangan Anggota Usai Penertiban di Kebayoran Baru

Senin, 12 Oktober 2026 2052

Cuaca jakarta doc

Kualitas Udara Menurun, Pram Tingkatkan Kesiagaan Fasilitas Kesehatan

Jumat, 16 Oktober 2026 864

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks