Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

Senin, 20 April 2020 Reporter: Mustaqim Amna Editor: Andry 5224

Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

(Foto: doc)

Penyebaran arus informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dan ditunggu masyarakat di tengah wabah COVID-19. Tak terkecuali bagi para penyandang tuna rungu yang setiap harinya juga ingin mengetahui perkembangan informasi tersebut.

Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu

Di baiik kondisi itu, mungkin tidak banyak yang tahu jika pemenuhan informasi bagi tuna rungu tidak bisa tersampaikan tanpa adanya peran dari penerjemah bahasa isyarat seperti Edik Widodo (42). Pria yang tergabung dalam lembaga Indonesia Sign Language Interpreters (INASLI) dan bertugas di Beritajakarta.id ini hampir setiap hari menyiarkan informasi dari Pemprov DKI terkait perkembangan COVID-19 kepada para tuna rungu.

"Sejak saya menggeluti profesi ini pada tahun 1999, baru kali ini seorang penerjemah seperti saya secara langsung diminta hadir dalam konferensi pers. Langkah Pemprov DKI ini sangat brilian," kata Widodo saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/4).

Ia menuturkan, peran penerjemah bahasa isyarat biasanya memang digunakan sebagai penunjang lisan nara sumber saat menyampaikan informasi dalam konferensi pers. Dalam hal ini informasi yang disampaikan terkait dengan perkembangan COVID-19 yang sangat dinantikan para tuna rungu.

"Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu. Karena di layar televisi, fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah," ungkapnya.

Selama menjalani profesinya, Widodo juga didampingi konsultan dari kalangan tuna rungu yang telah melakukan survei terkait hasil kepuasan responden setelah melihat para penerjemah menyampaikan informasi di layar televisi.

"Tim saya ini lah yang terus mendampingi saya setiap jam kerja dari pukul 11.00 hingga 16.00 atau pukul 16.00 hingga pukul 19.00," terangnya.

Widodo mengakui pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat beresiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tuna rungu.

"Hal ini saya lakukan juga agar para tuna rungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Pengalaman Perawat di Koja Mulai dari Disoraki hingga Digoda Pasien

Kisah Anggota Tim Penyelidikan Epidemiologi COVID-19 di Koja

Sabtu, 18 April 2020 9594

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Kamis, 16 April 2020 21057

BERITA POPULER
Pelantikan eselon 3 dan 4 rezap ilus

Pramono Bakal Lantik 891 Pejabat Pemprov DKI Hari Ini

Rabu, 20 Mei 2026 1636

Pemeriksaan kesehatan otoy

Dinkes Monitoring Kasus Hantavirus, Waspadai Penularan

Senin, 18 Mei 2026 2034

Pramono Raperda Kawasan

Pramono Dorong Target Net Zero Emission

Jumat, 22 Mei 2026 1109

IMG 20260518 WA0123

Sudin LH Jaktim Olah 3,4 Ton Sampah Organik Jadi Pakan Maggot dan Kompos

Senin, 18 Mei 2026 1908

IMG 20260521 WA0001

Sudin LH Jaksel Buat 345 Lubang Biopori Jumbo dan 40 Teba Modern

Kamis, 21 Mei 2026 1130

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks