Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

Senin, 20 April 2020 Reporter: Mustaqim Amna Editor: Andry 5069

Cerita Juru Bahasa Isyarat Bekerja di Tengah Wabah COVID-19

(Foto: doc)

Penyebaran arus informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan dan ditunggu masyarakat di tengah wabah COVID-19. Tak terkecuali bagi para penyandang tuna rungu yang setiap harinya juga ingin mengetahui perkembangan informasi tersebut.

Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu

Di baiik kondisi itu, mungkin tidak banyak yang tahu jika pemenuhan informasi bagi tuna rungu tidak bisa tersampaikan tanpa adanya peran dari penerjemah bahasa isyarat seperti Edik Widodo (42). Pria yang tergabung dalam lembaga Indonesia Sign Language Interpreters (INASLI) dan bertugas di Beritajakarta.id ini hampir setiap hari menyiarkan informasi dari Pemprov DKI terkait perkembangan COVID-19 kepada para tuna rungu.

"Sejak saya menggeluti profesi ini pada tahun 1999, baru kali ini seorang penerjemah seperti saya secara langsung diminta hadir dalam konferensi pers. Langkah Pemprov DKI ini sangat brilian," kata Widodo saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/4).

Ia menuturkan, peran penerjemah bahasa isyarat biasanya memang digunakan sebagai penunjang lisan nara sumber saat menyampaikan informasi dalam konferensi pers. Dalam hal ini informasi yang disampaikan terkait dengan perkembangan COVID-19 yang sangat dinantikan para tuna rungu.

"Tantangannya, saya harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tuna rungu. Karena di layar televisi, fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah," ungkapnya.

Selama menjalani profesinya, Widodo juga didampingi konsultan dari kalangan tuna rungu yang telah melakukan survei terkait hasil kepuasan responden setelah melihat para penerjemah menyampaikan informasi di layar televisi.

"Tim saya ini lah yang terus mendampingi saya setiap jam kerja dari pukul 11.00 hingga 16.00 atau pukul 16.00 hingga pukul 19.00," terangnya.

Widodo mengakui pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat beresiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tuna rungu.

"Hal ini saya lakukan juga agar para tuna rungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Pengalaman Perawat di Koja Mulai dari Disoraki hingga Digoda Pasien

Kisah Anggota Tim Penyelidikan Epidemiologi COVID-19 di Koja

Sabtu, 18 April 2020 9444

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Mereka Berbagi Pengalaman Berhasil Sembuh dari COVID-19

Kamis, 16 April 2020 20949

BERITA POPULER
Warga beri dukungan RDF plant ist

Dukungan RDF Plant Rorotan Datang dari Warga Sekitar

Jumat, 06 Februari 2026 4210

Polusi kendaraan dok

Pramono Ungkap Strategi Atasi Polusi Udara Jakarta

Selasa, 10 Februari 2026 750

ASN pemprov dki jakarta wfa

Terapkan WFA Lebaran, Pramono Pastikan Layanan Publik Tak Terganggu

Rabu, 11 Februari 2026 557

Halte transjakarta cawang sentral otoy2

Transjabodetabek Cawang-Cikarang Resmi Beroperasi

Rabu, 11 Februari 2026 509

Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Iwan Setiawan folmer ist

BI Prediksi Perekonomian Jakarta 2026 Terus Tumbuh

Senin, 09 Februari 2026 728

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks