Permintaan BBG Naik, Jakpus Bangun SPBG

Sabtu, 20 Desember 2014 Reporter: Jhon Syah Putra Kaban Editor: Widodo Bogiarto 7398

Minim Investor, Penambahan SPBG di Jakarta Terkendala‎

(Foto: doc)

Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Pusat berencana membangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di sejumlah lokasi. Hal ini dilakukan menyusul meningkatnya permintaan bahan bakar gas (BBG).

Cara kedua kita terapkan melalui MRU, seperti di Monas. Jadi bisa berpindah kemana saja. Kalau satu lokasi kurang menguntungkan bisa bergeser ke lokasi lainnya

Apalagi saat ini di Jakarta Pusat baru terdapat satu mobile refeuling unit (MRU) yang berada di Taman Monas, Gambir. Tercatat, sedikitnya 1.000 unit bajaj yang mengisi BBG di lokasi ini per hari.

Kepala Seksi Energi Suku Dinas  Perindustrian dan Energi Jakarta Pusat, Bungaran Purba mengatakan, salah satu kendala untuk membangun SPBG adalah minimnya ketersediaan lahan. Untuk itu, pihaknya akan menggunakan dua konsep pengisian BBG.

"Yang pertama kita sedang petakan pipa gas yang ada di Jakarta Pusat dan ke SPBU mana yang terdekat, sehingga di sana bisa dibangun pengisiannya," kata Bungaran, Sabtu (20/12).

Menurut Bungaran, konsep ini akan mempermudah pengusaha SPBU dalam membuat tempat pengisian gas. Sebab jika mereka mendatangkan gas melalui kendaraan, maka biaya operasionalnya sangat tinggi. Hal ini karena BBG berbeda dengan BBM, lantaran gas harus dikompres dengan tekanan tinggi ke tabung pengisian dan membutuhkan biaya mahal.

"Cara kedua kita terapkan melalui MRU, seperti di Monas. Jadi bisa berpindah kemana saja. Kalau satu lokasi kurang menguntungkan bisa bergeser ke lokasi lainnya," terang Bungaran.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI, M Haris Pindratno mengatakan, selain kesulitan mendapatkan lahan, pihaknya juga kesulitan mencari investor yang berminat untuk berbisnis gas di ibu kota.

"Mungkin karena harganya yang ada di pasaran tidak kompetitif seperti harga BBM. Sementara, investasi di bisnis gas membutuhkan modal yang sangat besar," kata Haris.

Saat ini harga BBG di pasaran sebesar Rp 3.100 per liter setara premium (lsp). Harga tersebut sulit diterima investor karena tidak bisa menutupi biaya investasi awal. Sedangkan biaya investasi awal untuk satu unit SPBG antara Rp 16-20 miliar.

"Untuk biaya investasi sebesar itu, harga ekonomis yang bisa diterima investor adalah Rp 4.500 per liter. Tetapi dengan harga Rp 3.100 yang berlaku di masyarakat, ya investor mikir lah. Mau kapan balik modalnya," ungkap Haris.

Salah satu solusi untuk meningkatkan minat investor mau membangun SPBG, adalah dengan menaikkan harga jual gas. Tetapi usulan menaikkan harga gas kepada pemerintah pusat bukan suatu hal yang mudah.

BERITA TERKAIT
Minim Investor, Penambahan SPBG di Jakarta Terkendala‎

Minim Investor, Penambahan SPBG Terkendala‎

Jumat, 12 Desember 2014 4597

Sempat Tutup, SPBG Monas Buka Kembali

SPBG Monas Kembali Beroperasi

Kamis, 13 November 2014 7670

DKI Akan Bangun 50 SPBG Baru

DKI Akan Bangun 50 SPBG Baru

Rabu, 08 Oktober 2014 7387

Jokowi Ingin DKI Jadi Contoh Penerapan BBG

Jokowi Ingin DKI Jadi Contoh Penerapan BBG

Senin, 18 Agustus 2014 5046

Pemprov DKI - PGN Jajaki Kerja sama

SPBG Mobile Akan Layani Kebutuhan Gas Warga DKI

Rabu, 16 Juli 2014 6604

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7166

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4858

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 3199

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2595

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1295

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks