DPK DKI Ajukan Pembelian GPS Geodetic

Selasa, 22 September 2015 Reporter: Andry Editor: Rio Sandiputra 6544

GPS Geodetic

(Foto: Istimewa)

Dinas Penataan Kota (DPK) DKI mengajukan pembelian alat Global Positioning Sytem (GPS) pengukur bangunan dalam Kebijakan Umum APBD dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016. Dengan alat ini, tingkat akurasi penandaan bangunan bisa lebih tinggi.

Alat GPS ini juga mampu mengukur bangunan secara real time.

"Pada saat menginput anggaran ke e-budgeting, alat GPS untuk Geodetic yang ada harganya sekitar Rp 284 juta. Namun, ternyata ada harga GPS serupa yang sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan kita yakni Rp 198 juta," ujar Iswan Achmadi, Kepala Dinas Penataan Kota DKI, Selasa (22/9).

Iswan mengatakan, saat pembahasan KUA-PPAS 2016, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI meminta pihaknya untuk mempresentasikan alat GPS Geodetic yang telah diinput di e-planning awal. Artinya, alat GPS pengukur bangunan yang dipaparkan merupakan GPS seharga Rp 284 juta, bukan Rp198 juta.

"Ini yang mau saya klarifikasi. Jadi alat GPS yang kita usulkan di KUA-PPAS tahun 2016 itu adalah GPS seharga Rp 198 juta, bukan Rp 284 juta," katanya.

Menurut Iswan, GPS yang diusulkan dalam KUA-PPAS 2016 berbeda dengan alat GPS navigasi seperti di mobil-mobil pribadi. Alat GPS Geodetic tersebut untuk menentukan posisi suatu bangunan secara koordinat dengan tingkat akurasi sangat tinggi.

"Itulah mengapa GPS yang akan kita beli harganya Rp 198 juta. Karena GPS yang kita maksud itu untuk Geodetic bukan untuk navigasi, jadi speknya beda. Kalau GPS navigasi yang ada di mobil harganya Rp 4 jutaan," ucapnya.

Keunggulan alat GPS Geodetic ini, lanjut Iswan, dapat menangkap sepuluh satelit. Sementara alat GPS biasa hanya mampu menangkap tiga satelit. Lew‎at GPS tersebut sudut-sudut bangunan yang semula blind spot bisa ditangkap melalui satelit.

‎"Alat GPS ini juga mampu mengukur bangunan secara real time. Karena gambar bangunan yang diukur dari citra satelit bisa kita kirim langsung ke Geographic Information System (GIS). Jadi dapat dilihat langsung gambar hasil ukur di lapangan," ungkapnya.

‎Keunggulan lain alat GPS tersebut terletak pada tingkat akurasi antara hasil ukur di lapangan dengan gambar dalam GIS, deviasinya maksimal hanya setengah meter. Sementara alat GPS pengukur bangunan yang lama deviasinya hanya 20 meter.

"Jadi tingkat akurasinya sangat tinggi. Karena spek dan keunggulan itulah yang membedakan kenapa harganya mahal," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Oktober, 352 Armada Truk Sampah Dipasangi GPS

Oktober, 352 Armada Truk Sampah Dipasangi GPS

Rabu, 26 Agustus 2015 5975

Dinsih DKI Akan Bangun Control Room

Awasi Petugas Kebersihan, DKI Bangun Control Room

Senin, 13 Juli 2015 6685

Basuki Imbau Warga Berhati - Hati Naik Taksi

Taksi di Ibu Kota Wajib Pasang GPS

Kamis, 04 Desember 2014 4029

ERP GPS

Ahok Tolak ERP dengan Teknologi GPS

Rabu, 02 Juli 2014 6040

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2950

Pendataan pengadaan tanah MRT kwitang fakhri

Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

Sabtu, 19 September 2026 1313

Pemadaman lampu hemat energi dok

Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

Sabtu, 19 September 2026 512

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1292

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 1098

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks