DPK DKI Ajukan Pembelian GPS Geodetic

Selasa, 22 September 2015 Reporter: Andry Editor: Rio Sandiputra 6697

GPS Geodetic

(Foto: Istimewa)

Dinas Penataan Kota (DPK) DKI mengajukan pembelian alat Global Positioning Sytem (GPS) pengukur bangunan dalam Kebijakan Umum APBD dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016. Dengan alat ini, tingkat akurasi penandaan bangunan bisa lebih tinggi.

Alat GPS ini juga mampu mengukur bangunan secara real time.

"Pada saat menginput anggaran ke e-budgeting, alat GPS untuk Geodetic yang ada harganya sekitar Rp 284 juta. Namun, ternyata ada harga GPS serupa yang sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhan kita yakni Rp 198 juta," ujar Iswan Achmadi, Kepala Dinas Penataan Kota DKI, Selasa (22/9).

Iswan mengatakan, saat pembahasan KUA-PPAS 2016, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD DKI meminta pihaknya untuk mempresentasikan alat GPS Geodetic yang telah diinput di e-planning awal. Artinya, alat GPS pengukur bangunan yang dipaparkan merupakan GPS seharga Rp 284 juta, bukan Rp198 juta.

"Ini yang mau saya klarifikasi. Jadi alat GPS yang kita usulkan di KUA-PPAS tahun 2016 itu adalah GPS seharga Rp 198 juta, bukan Rp 284 juta," katanya.

Menurut Iswan, GPS yang diusulkan dalam KUA-PPAS 2016 berbeda dengan alat GPS navigasi seperti di mobil-mobil pribadi. Alat GPS Geodetic tersebut untuk menentukan posisi suatu bangunan secara koordinat dengan tingkat akurasi sangat tinggi.

"Itulah mengapa GPS yang akan kita beli harganya Rp 198 juta. Karena GPS yang kita maksud itu untuk Geodetic bukan untuk navigasi, jadi speknya beda. Kalau GPS navigasi yang ada di mobil harganya Rp 4 jutaan," ucapnya.

Keunggulan alat GPS Geodetic ini, lanjut Iswan, dapat menangkap sepuluh satelit. Sementara alat GPS biasa hanya mampu menangkap tiga satelit. Lew‎at GPS tersebut sudut-sudut bangunan yang semula blind spot bisa ditangkap melalui satelit.

‎"Alat GPS ini juga mampu mengukur bangunan secara real time. Karena gambar bangunan yang diukur dari citra satelit bisa kita kirim langsung ke Geographic Information System (GIS). Jadi dapat dilihat langsung gambar hasil ukur di lapangan," ungkapnya.

‎Keunggulan lain alat GPS tersebut terletak pada tingkat akurasi antara hasil ukur di lapangan dengan gambar dalam GIS, deviasinya maksimal hanya setengah meter. Sementara alat GPS pengukur bangunan yang lama deviasinya hanya 20 meter.

"Jadi tingkat akurasinya sangat tinggi. Karena spek dan keunggulan itulah yang membedakan kenapa harganya mahal," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Oktober, 352 Armada Truk Sampah Dipasangi GPS

Oktober, 352 Armada Truk Sampah Dipasangi GPS

Rabu, 26 Agustus 2015 6025

Dinsih DKI Akan Bangun Control Room

Awasi Petugas Kebersihan, DKI Bangun Control Room

Senin, 13 Juli 2015 6764

Basuki Imbau Warga Berhati - Hati Naik Taksi

Taksi di Ibu Kota Wajib Pasang GPS

Kamis, 04 Desember 2014 4096

ERP GPS

Ahok Tolak ERP dengan Teknologi GPS

Rabu, 02 Juli 2014 6148

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7154

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4841

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 2649

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2562

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1242

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks