Senin, 26 Oktober 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 88
(Foto: Aldi Geri Lumban Tobing)
Dinas Kebudayaan Melalui Unit Pengelola (UP) Museum Kesejarahan Jakarta menyelenggarakan Pameran Temporer bertajuk ‘Di Balik Mural Harijadi: Mahakarya yang Tak Usai’ di Museum Sejarah Jakarta pada 26 Oktober sampai 31 Desember 2026.
Pameran ini mengajak publik mengenal lebih dekat sosok Harijadi Sumadidjaja, seniman yang pada 1974 mulai mengerjakan mural monumental di Museum Sejarah Jakarta.
"gagasan artistik dan proses penciptaan mural,"
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong 5 Abad Kota Jakarta dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap karya seni publik yang menjadi bagian dari sejarah Jakarta, sekaligus mengungkap kisah yang selama ini belum banyak diketahui mengenai proses penciptaan mural, gagasan artistik Harijadi, serta keterlibatan keluarga dan tim yang mendukung proses berkaryanya.
Setelah dua tahun pengerjaan, proses penciptaan mural tersebut terhenti, meninggalkan sebuah karya yang menyimpan jejak proses kreatif sekaligus pertanyaan tentang cerita yang belum sempat dituntaskan.
Lebih dari sekadar menampilkan sebuah mural, pameran ini membuka ruang untuk menelusuri perjalanan artistik Harijadi melalui sketsa, arsip, dokumentasi proses kreatif, serta karya-karya publiknya. Berbagai materi tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami gagasan, pendekatan artistik, dan konteks di balik mural yang ditinggalkannya.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Retno Setiowati, mengapresiasi dukungan keluarga Harijadi Sumadidjaja dalam penyelenggaraan pameran temporer ini.
Ia mengatakan, dukungan tersebut diwujudkan melalui peminjaman arsip dan objek koleksi untuk melengkapi pameran yang berlangsung hingga 31 Desember 2026.
“Keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam mengungkap perjalanan kreatif Harijadi sekaligus menjaga warisan seni yang ditinggalkannya agar dapat dikenal oleh generasi mendatang,” ujarnya, Senin (26/10).
Retno menjelaskan, mural yang menggambarkan situasi Batavia pada periode 1880–1920 tersebut berawal dari program pelestarian kawasan bersejarah Kota Tua pada awal 1970-an.
Setelah gedung bekas Balai Kota Batavia dipugar menjadi Museum Sejarah Jakarta, Gubernur Ali Sadikin menugaskan Harijadi untuk mengerjakan mural monumental tersebut pada 1974.
Rento mengatakan, Harijadi menyiapkan berbagai sketsa dan rancangan secara terperinci dalam prosesnya, termasuk sketsa induk sepanjang enam meter yang menjadi salah satu materi penting dalam pameran.
“Sketsa ini belum pernah dipamerkan dan belum pernah ada yang melihat, kecuali mungkin keluarganya. Sekarang sketsa ini kami perlihatkan kepada publik agar dapat melihat detailnya dan proses berkarya sang seniman, sekaligus sebagai sarana untuk memahami gagasan artistik dan proses penciptaan mural,” jelasnya.
Ia menyampaikan, selain memperkenalkan perjalanan kreatif Harijadi, Museum Sejarah Jakarta memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian mural agar tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Menurutnya, kondisi bangunan yang telah berusia lebih dari 300 tahun dan berada di kawasan dekat laut menjadi tantangan tersendiri karena kelembapan dapat memengaruhi daya lekat cat pada dinding.
“Oleh karena itu, pada 2026 dilaksanakan upaya konservasi untuk melindungi bagian mural yang masih tersisa. Melalui pameran ini, pengunjung juga diajak memahami mural sebagai representasi sejarah Batavia sekaligus bagian dari perjalanan perkembangan Jakarta,” tuturnya.
Ia berharap, melalui penelusuran arsip dan proses kreatif, pameran ini dapat memperkaya apresiasi masyarakat terhadap warisan seni rupa Indonesia sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal lebih jauh perjalanan seorang seniman dan karya publik yang ditinggalkannya.
“Pameran ini mengundang masyarakat untuk melihat lebih dekat sebuah karya yang prosesnya terhenti, tetapi kisahnya masih dapat terus ditelusuri. Sebab, ada kalanya sebuah mahakarya tidak hanya berbicara melalui apa yang berhasil diselesaikan, tetapi juga melalui jejak, pertanyaan, dan kemungkinan yang ditinggalkannya,” ucapnya.
Kepala Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Retno Ayati menyampaikan, pameran ‘Di Balik Mural Harijadi: Mahakarya yang Tak Usai’ menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat melihat warisan sejarah tidak hanya melalui bangunan dan koleksi, tetapi juga melalui karya seni yang menyimpan gagasan, proses kreatif, dan jejak zamannya.
“Pameran ini dapat membuka ruang dialog antara museum, seniman, peneliti, komunitas, dan masyarakat luas dalam memahami warisan budaya secara lebih mendalam,” tandasnya.
Sekadar informasi, pameran ini terwujud berkat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, serta kerja sama dan kolaborasi Southeast Asia Museum Services (SEAMS), Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Galeri Nasional Indonesia, Unit Pengelola Museum Seni, Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Lanting Studio, SBS Group, Serrum, dan Keluarga Besar Harijadi Sumadidjaja.