Sabtu, 17 Oktober 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Andry 105
(Foto: Istimewa)
Bank Indonesia (BI) terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional melalui penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
"Pengembangan kapasitas dan daya saing ekosistem industri halal,"
Mengusung tema 'Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital', ISEF ke-13 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan industri halal, meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperluas akses pasar.
ISEF 2026 resmi dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dradjad Hari Wibowo pada 14 Oktober 2026.
Sejalan dengan upaya tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi DKI Jakarta memfasilitasi 22 UMKM Jakarta untuk berpartisipasi dalam ISEF 2026. UMKM dari sektor fesyen, kriya, dan makanan halal tersebut didorong untuk memperkuat kualitas, inovasi, serta nilai tambah produk lokal.
Kepala KPwBI Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan, 17 dari 22 UMKM yang difasilitasi merupakan peserta program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha dalam ekosistem industri halal, baik melalui segmen business to consumer (B2C) maupun business to business (B2B).
"Dari 22 UMKM yang difasilitasi, 17 UMKM merupakan peserta program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia yang menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas dan daya saing pelaku usaha dalam ekosistem industri halal, baik pada segmen B2C maupun B2B," ujar Iwan, Jumat (16/10).
Melalui segmen B2C, UMKM berkesempatan menjangkau konsumen secara langsung sekaligus memperluas pengenalan produk. Sementara itu, segmen B2B membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun jejaring bisnis dan menjajaki kerja sama dengan calon pembeli maupun mitra distribusi.
Salah satu capaian dalam ISEF 2026 diwujudkan melalui penjajakan bisnis (business matching) dengan Ben Helen Trading, calon pembeli internasional asal Belanda. Dalam penjajakan tersebut, CV Boga Rinset Indonesia melalui produk Cuan-Q mencatat potensi kesepakatan bisnis senilai Rp1,3 miliar. Sementara itu, PT Sejiwa Kreasi Bersama melalui produk Tepa Selira mencatat potensi kesepakatan senilai Rp3,1 miliar untuk periode satu tahun ke depan.
"Secara keseluruhan, kedua penjajakan tersebut memiliki potensi nilai bisnis mencapai Rp4,4 miliar," kata Iwan.
Menurutnya, capaian tersebut memperkuat peran ISEF sebagai wadah promosi sekaligus fasilitasi perluasan akses pasar dan kemitraan internasional bagi UMKM Jakarta.
Partisipasi dalam ISEF 2026 juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan BI dalam meningkatkan kapasitas usaha melalui penguatan kualitas produk, inovasi, dan kesiapan menghadapi persaingan pasar.
"Melalui program IKRA dan fasilitasi pengembangan UMKM lainnya, KPwBI Provinsi DKI Jakarta mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan nilai tambah produk, mengembangkan jejaring pemasaran, serta mengoptimalkan potensi bisnis dalam rantai nilai industri halal," imbuhnya.
Iwan menambahkan, pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi produk lokal sekaligus meningkatkan kesiapan UMKM untuk menjangkau pasar domestik maupun internasional.
Ke depan, KPwBI Provinsi DKI Jakarta berkomitmen melanjutkan pembinaan UMKM secara berkelanjutan melalui penguatan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Partisipasi dalam ISEF 2026 diharapkan menjadi momentum bagi UMKM Jakarta untuk memperluas peluang usaha, meningkatkan daya saing, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional yang inklusif dan berkelanjutan," tandasnya.