Selasa, 08 September 2026 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 77
(Foto: Andri Widiyanto)
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta menyelenggarakan Invitasi Cabang Olahraga Beladiri dan Terukur Mahasiswa Tahun 2026, mulai 8 hingga 10 September.
Kegiatan ini digelar di sejumlah lokasi, antara lain GOR Pulo Gadung, Gelanggang Jakarta Pusat, GOR Matraman, GOR Ciracas, Kolam Renang Bulungan, dan Stadion Atletik Rawamangun.
"mengukur hasil latihan keras,"
Terdapat dua kelompok cabang olahraga yang dipertandingkan, yakni cabang beladiri yang mencakup karate, taekwondo, dan shorinji kempo, serta cabang terukur yang meliputi atletik, renang, dan panahan.
Ajang ini diikuti oleh 1.114 peserta yang terdiri dari 924 atlet mahasiswa dan 190 ofisial. Para peserta merupakan perwakilan dari 104 perguruan tinggi yang tersebar di 18 provinsi di Indonesia, seperti Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatra Barat, Riau, Lampung, Bali, Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Aceh, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Sumatra Utara, dan Banten.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, Andri Yansyah mengatakan, penyelenggaraan kegiatan ini dimaksudkan sebagai ajang uji coba tanding untuk meningkatkan prestasi atlet ke jenjang yang lebih tinggi, guna membantu pemerintah meningkatkan prestasi olahraga di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menyampaikan, ajang ini juga memiliki nilai strategis yang sangat penting bagi pembentukan karakter generasi muda.
"Cabang olahraga beladiri mengajarkan kita tentang nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, penguasaan diri, serta rasa hormat kepada lawan. Sementara itu, cabang olahraga terukur menjadi tolak ukur nyata atas batas kemampuan fisik, kejujuran, konsistensi, dan presisi," ujarnya.
Ia menjelaskan, kombinasi dari kedua kelompok cabang olahraga tersebut tidak hanya bertujuan untuk mencari pemenang, tetapi juga membangun solidaritas antarpeserta, serta sarana pembentukan karakter pemuda yang komprehensif.
“Melalui kompetisi ini, kita tidak hanya mencari siapa yang tercepat, terkuat, atau terhebat di atas gelanggang, melainkan membangun nilai-nilai sportivitas, daya juang pantang menyerah, serta solidaritas antar-mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi," tuturnya.
Andri berpesan kepada para atlet mahasiswa agar mengedepankan nilai kejujuran dan sportivitas selama mengikuti jalannya kejuaraan. Menurutnya, kemenangan yang diraih dengan cara-cara yang jujur dan beretika jauh lebih bernilai daripada sekadar piala dan medali.
“Jadikan ajang ini sebagai sarana mengukur hasil latihan keras yang telah kalian jalani selama ini untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, baik skala nasional maupun internasional," tandasnya.