Rabu, 05 Agustus 2026 Reporter: Nurito Editor: Budhy Tristanto 179
(Foto: Nurito)
Sudin Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Kota Jakarta Timur, berkomitmen memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui berbagai program.
Hal tersebut disampaikan Kasudin PPAPP Jakarta Timur, Ferlina Kirtiasih, saat melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan tema "Berani Bersuara, Cegah Kekerasan terhadap Perempuan di Lingkungan Sekolah", Rabu (5/8).
Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan nyata.
Kegiatan yang digelar melalui zoom ini menghadirkan narasumber, Vitria Lazzarini Latief, psikolog dari Klinik Psycoah Human Integra dan Nyi Mas Diane, psikolog dari Dianesia Foundation dan diikuti 100 pelajar SMP dan SMA atau sederajat.
Ferlina mengatakan, pihaknya telah menerapkan berbagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui kegiatan edukasi, penguatan kapasitas tenaga pendidik, layanan pengaduan, pendampingan korban, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Kami juga bersinergi dengan sekolah, Puskesmas, aparat penegak hukum, lembaga layanan, organisasi masyarakat, serta dunia pendidikan agar setiap korban mendapatkan perlindungan dan setiap potensi kekerasan dapat dicegah sedini mungkin," papar Ferlina.
Menurutnya, tema yang diambil dalam kegiatan sosialisasi hari ini mengandung pesan yang sangat kuat. Bukan menyebarkan aib, tetapi memiliki keberanian untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain, melaporkan tindakan yang tidak benar, serta menjadi bagian dari solusi.
"Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi setiap anak dan perempuan untuk belajar, berkembang, serta meraih cita-cita," tegasnya.
Namun, kenyataannya berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, seksual, perundungan, maupun kekerasan berbasis digital masih terjadi di lingkungan pendidikan.
"Kondisi ini menjadi perhatian bersama," keluhnya.
Data Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan (SPHP) menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan pasangan maupun selain pasangan selama hidupnya. Selain itu, bentuk kekerasan emosional, ekonomi, serta kekerasan berbasis teknologi informasi juga menunjukkan kecenderungan meningkat.
Sementara itu, Hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR/SNPHA) juga memberikan gambaran yang memprihatinkan. Sebagian besar anak di Indonesia pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan, baik fisik, emosional maupun seksual sebelum usia 18 tahun, dan banyak di antaranya terjadi di lingkungan yang seharusnya memberikan perlindungan, termasuk sekolah dan lingkungan pergaulan.
"Hasil survei tersebut menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan nyata. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, merasa tidak dipercaya, atau tidak mengetahui kepada siapa mereka harus melapor," ucapnya.
Oleh karena itu, membangun budaya berani bersuara, saling melindungi, dan tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan menjadi tanggung jawab bersama.
Ia berharap, setelah mengikuti webinar ini para peserta mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan di lingkungan sekolah. Kemudian memahami mekanisme pencegahan dan penanganan sesuai kewenangan masing-masing.
Lebih dari itu, diharapkan mereka juga dapat menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, ramah perempuan, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Kemudian mendorong terbentuknya budaya saling menghargai, saling melindungi, dan tidak melakukan pembiaran terhadap kekerasan.
Disebutkan Ferlina, Dinas PPAPP DKI telah memberikan layanan konseling bagi masyarakat melalui Pusat Pelayanan Keluarga berbasis web yang dapat diakses secara gratis dengan mendaftar di puspa.jakarta.go.id.
"Kami mengajak seluruh masyarakat Jakarta untuk berani melaporkan jika terjadi kekerasan melalui UPT PPPA dengan menghubungi URC 112 atau hotline 085217866445," tutupnya.