Senin, 13 Juli 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 339
(Foto: Andri Widiyanto)
Jajaran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meninjau pelaksanaan program Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) di SLBN 02 Jakarta, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
"Menyempatkan waktu mengantar anak"
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji mengatakan, program GAMAS bertujuan mendorong para ayah untuk meluangkan waktu mendampingi dan mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah sebagai bentuk kehadiran orang tua dalam tumbuh kembang anak.
Wihaji menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) agar para ayah memperoleh kesempatan mengantar anak ke sekolah.
"Pak Menteri PAN-RB sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kementerian dan lembaga di Indonesia agar memberikan dispensasi bagi para ayah untuk menyempatkan waktu mengantar anak mereka ke sekolah, di mana pun mereka berada," ujarnya, Senin (13/7).
Menurutnya, kunjungan ke SLBN 02 Jakarta dipilih karena sekolah tersebut menjadi tempat belajar sekitar 90 anak berkebutuhan khusus yang didukung oleh orang tua dengan komitmen tinggi dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
"Kehadiran ayah di SLB ini, akan terbangun kedekatan emosional, memberikan motivasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri anak saat memulai tahun ajaran baru," ungkapnya.
Wihaji memaparkan, sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fenomena fatherless atau kehilangan figur ayah secara psikologis. Untuk itu, ia mengajak para ayah untuk menyempatkan diri hadir pada momen penting dalam kehidupan anak.
Ia mengingatkan, ketidakhadiran orang tua dapat membuat peran tersebut tergantikan oleh penggunaan gawai yang berlebihan.
"Rata-rata delapan hingga sepuluh jam setiap hari, algoritma gawai dapat memengaruhi pikiran dan perilaku anak-anak kita," bebernya.
Ia menuturkan, terdapat hampir 250.000 anak berkebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di satuan pendidikan formal di Indonesia. Sementara itu, di DKI Jakarta terdapat sekitar 6.000 anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan.
Wihaji mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang dinilai sudah menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus.
"Ada 13 SLB di bawah naungan Pemprov DKI Jakarta. Saya rasa semuanya memiliki fasilitas yang lengkap sehingga anak-anak yang lulus nantinya memiliki keterampilan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia menyampaikan, Pemprov DKI Jakarta turut mendukung pelaksanaan program GAMAS melalui instruksi Sekretaris Daerah yang mengimbau para ayah di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk.
Dinas PPAPP DKI Jakarta juga terus memperkuat peran ayah dalam pengasuhan melalui program Ayah Idaman (AMAN), yang menjadi wadah pembelajaran sekaligus berbagi pengalaman mengenai pola asuh positif.
"Ayah Idaman adalah sosok ayah yang hadir dan mengikuti perkembangan anak secara langsung bersama keluarga. Hal ini dimulai dengan membangun komunikasi, menjalankan fungsi agama, serta berbagai fungsi lainnya untuk membentuk keluarga yang ideal," tandasnya.