Selasa, 07 Juli 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 50
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Inovasi dalam pengelolaan sampah organik di Kelurahan Manggarai Selatan, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan dilakukan melalui pemanfaatan biowash.
"Mempercepat pengelolaan sampah organik"
Lurah Manggarai Selatan, Sri Nurwiyanti mengatakan, biowash merupakan cairan yang dihasilkan dari fermentasi sisa kulit buah atau sayuran segar yang dicampur dengan cairan mikroorganisme atau starter khusus (Promic).
"Sampah organik dapat segera dimanfaatkan sebagai media tanam tanpa harus menunggu proses penguraian selama berbulan-bulan," ujarnya, Selasa (7/7).
Sri menjelaskan, proses pembuatan biowash cukup sederhana. Sebanyak satu kilogram sampah organik berupa kulit buah dicampur dengan 200 gram starter Promic dan lima liter air, kemudian difermentasi selama tiga hari hingga menghasilkan cairan biowash.
"Setelah proses fermentasi selesai dan cairannya siap digunakan, takarannya adalah satu liter biowash untuk 30 liter air sebagai campuran media tanam," terangnya.
Menurutnya, pembuatan biowash saat ini masih dipusatkan di Kantor Kelurahan Manggarai Selatan. Bahan bakunya berasal dari sampah organik yang diantarkan langsung oleh warga sebagai bentuk partisipasi dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
"Sosialisasi mengenai pemanfaatan biowash terus dilakukan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan di wilayah," ungkapnya.
Ia berharap, upaya ini dapat meningkatkan kesadaran warga untuk mengolah sampah organik secara mandiri, terutama menjelang penerapan pembatasan pembuangan sampah ke TPST Bantar Gebang.
"Semoga metode ini dapat mempercepat pengelolaan sampah organik di wilayah kami. Selain mudah dimanfaatkan untuk tanaman, ke depan hasil pengolahan ini juga diharapkan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat," ucapnya.
Sri menambahkan, penerapan lubang biopori jumbo belum dapat dilakukan secara merata di seluruh wilayah Manggarai Selatan karena keterbatasan lahan. Kondisi ini membuat pilihan alternatif lain, seperti penggunaan tong komposter dan biowash, sebagai solusi pengelolaan sampah rumah tangga.
"Mengingat wilayah kami merupakan kawasan permukiman yang padat penduduk dengan lahan terbatas, cukup sulit membangun fasilitas pengolahan sampah yang besar. Untuk itu, metode biowash menjadi salah satu solusi yang efektif untuk mengelola sampah organik di tingkat rumah tangga," tandasnya.