Rabu, 17 Juni 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 121
(Foto: Nurito)
Para pelaku usaha di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur diberikan sosialisasi dan diedukasi untuk berkontribusi dalam mengatasi persoalan sampah.
"Pengolahan dan pemilahan sampah"
Camat Cipayung, Diman mengatakan, peran serta aktif pelaku usaha dalam menangani persoalan sampah dari sumber sangat diperlukan.
Menurutnya, sekitar 100 pemangku kepentingan dan mitra tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) diundang untuk membangun sinergisitas dalam program pemilahan dan pengolahan sampah, termasuk pembuatan lubang biopori jumbo sebagai sarana pengolahan sampah organik.
"Kami berharap para pelaku usaha dan berbagai elemen masyarakat dapat berkolaborasi dalam mendukung program pengolahan dan pemilahan sampah di Kecamatan Cipayung," ujarnya,
di aula SMKN 24 Jakarta, Jalan Bambu Hitam, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Rabu (17/6).
Diman menjelaskan, pengelolaan sampah organik memerlukan penanganan yang lebih kompleks dibandingkan sampah anorganik.
"Keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam mewujudkan pengurangan sampah secara berkelanjutan," terangnya.
Ia menuturkan, respons para peserta sosialisasi dan edukasi sangat positif. Sejumlah pengusaha menyatakan kesiapan untuk mendukung pembangunan lubang biopori jumbo melalui penyediaan sarana dan prasarana.
"Konsep kolaborasi yang dibangun adalah penyediaan sarana dan prasarana oleh mitra CSR. Sedangkan tenaga pelaksana berasal dari unsur pemerintah, seperti petugas PPSU, Satgas Lingkungan Hidup, Sumber Daya Air, Bina Marga, dan pihak terkait lainnya," ungkapnya.
Diman menambahkan, kolaborasi tersebut sebenarnya sudah mulai berjalan sejak sepekan terakhir. Beberapa lokasi yang telah terlibat di antaranya Pondok Pesantren Al Hamid dan kompleks Gedung PBSI.
Ia memaparkan, volume sampah di Kecamatan Cipayung mencapai sekitar 223 ton per hari. Dari jumlah tersebut, hampir 50 persen merupakan sampah organik yang berpotensi diolah menjadi kompos.
"Melalui program ini, setiap kelurahan diharapkan mampu mengolah sedikitnya 10 ton sampah organik per hari sehingga dapat mengurangi beban pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Monang Sinaga menyampaikan, keberhasilan program pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Ia mengapresiasi langkah Kecamatan Cipayung yang aktif menggandeng berbagai mitra CSR untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber.
"Prinsipnya, kami mengajak masyarakat untuk mengolah sampah mulai dari sumbernya. Salah satunya melalui pemilahan sampah dan pembuatan lubang biopori jumbo yang dapat membantu mengurangi volume sampah organik," tandasnya.