Senin, 25 Mei 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 175
(Foto: Istimewa)
Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta menggelar Kopitalk bertajuk “Ragam Visual Betawi, antara Filosofi, Pakem, dan Estetika” di Ruang Palang Pintu Graha Ali Sadikin Lantai 23, Blok G Balai Kota DKI Jakarta, Senin (25/5).
Kepala Bidang Komunikasi Publik Diskominfotik DKI Jakarta, M. Shendy Adam mengatakan, pemajuan kebudayaan Betawi merupakan bagian dari amanat Undang Undang Daerah Khusus Jakarta.
"Ornamen budaya Betawi bukan hanya soal estetika visual,"
Sebab itu, tukas Adam, arah pembangunan Jakarta sebagai kota global tetap harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas budaya lokal.
“Bagi kami, ornamen budaya Betawi bukan hanya soal estetika visual, tetapi juga perlu dipahami filosofi dan maknanya agar penggunaannya lebih tepat,” ujar Adam.
Melalui kegiatan ini, Adam berharap peserta tidak hanya memahami aspek visual budaya Betawi, tetapi juga mampu menerapkan nilai dan filosofinya secara lebih sesuai dalam proses kerja dan komunikasi publik.
“Bukan untuk mengurangi kreativitas teman-teman, tetapi menjadi upaya melakukan penyesuaian agar penerapannya lebih tepat,” kilahnya.
Praktisi Arsitek dan Anggota IAI, IABHI, LKB, Ar Dorri Herlambang memaparkan mengenai nilai, makna, dan filosofi budaya Betawi kepada peserta dari lingkungan Diskominfotik serta organisasi perangkat daerah (OPD) lain yang mengikuti secara daring.
Ia juga mengapresiasi inisiatif Diskominfotik DKI Jakarta yang turut mengambil peran dalam memperkuat literasi budaya, meski bukan instansi yang secara langsung membidangi urusan kebudayaan.
Diyakininya, penyampaian informasi juga menjadi aspek penting sehingga bisa memberikan pemahaman yang benar.
“Karena itu kegiatan seperti ini sangat baik dan patut diapresiasi,” ujarnya.
Ke depan, ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan, tidak hanya di Diskominfotik tetapi juga lintas perangkat daerah.
“Semangat kebetawian dapat diterapkan di berbagai sektor sesuai konteks dan kebutuhan masing-masing, sehingga identitas serta kearifan lokal tetap mewarnai Jakarta sebagai kota global,” tandasnya.