Selasa, 12 Mei 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 311
(Foto: Nurito)
Kepedulian terhadap persoalan sampah ternyata mampu melahirkan kreativitas dan peluang ekonomi. Hal inilah yang dilakukan warga RW 12, Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur dengan menyulap barang bekas menjadi aneka kerajinan tangan bernilai jual tinggi.
"Memilah sampah"
Berbagai produk kreatif dihasilkan warga mulai dari tas, dompet, tempat tisu hingga aksesoris berbahan dasar limbah rumah tangga seperti bungkus kopi, kemasan minuman, hingga bungkus sabun. Tak hanya itu, warga juga memproduksi busana ecoprint bermotif dedaunan menggunakan teknik kukus alami.
Aktivitas tersebut dipusatkan di dua rumah warga yang menjadi lokasi kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dan sanggar belajar "Rumah Terampil Hasanah Center" yang dipimpin Siti Munawaroh.
Ketua UP2K RW 12, Kelurahan Malaka Jaya, Siti Munawaroh mengatakan, gerakan pengolahan sampah tersebut lahir dari kepedulian warga terhadap persoalan lingkungan, terutama tingginya volume sampah yang dibuang ke TPST Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
"Inisiatif ini bermula setelah wilayah kami meraih sertifikasi Program Kampung Iklim tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Kami prihatin melihat gunungan sampah di TPST Bantar Gebang yang terus meningkat," ujarnya, Selasa (12/5).
Menurutnya, sampah rumah tangga menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah di TPST Bantar Gebang. Untuk itu, warga berupaya melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah untuk kemudian diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
"Ketika kita melihat gunungan sampah di TPST Bantar Gebang dan melihat potensi sampah yang semakin meninggi maka kita berusaha memilah sampah dari rumah tangga," terangnya.
Tak hanya fokus pada kerajinan daur ulang, lanjut Siti, sekitar 50 warga yang tergabung dalam kegiatan tersebut juga dibekali berbagai keterampilan lain seperti merajut, membuat kerajinan makrame, manik-manik akrilik hingga teknik cetak kain alami atau ecoprint.
Ia menuturkan, Sanggar "Rumah Terampil Hasanah Center" sudah berdiri sejak tahun 2017 sebagai wadah edukasi bagi kaum ibu. Siti menyebut, perempuan memiliki peran penting dalam menentukan pola hidup keluarga, termasuk dalam menjaga lingkungan.
"Kalau ibunya teredukasi, maka lingkungan dan generasi berikutnya juga akan ikut terselamatkan," ungkapnya.
Menariknya, para instruktur yang mengajar di sanggar tersebut datang secara sukarela untuk berbagi ilmu tanpa meminta bayaran.
Selain membuat kerajinan, warga juga mengelola lahan kosong seluas sekitar 700 meter persegi untuk memproduksi kompos dan pupuk organik cair (POC). Lahan tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai area urban farming.
Untuk pemasaran produk, warga aktif mengikuti berbagai bazar mulai tingkat kelurahan, kecamatan hingga provinsi, termasuk kegiatan yang didukung program CSR. Salah satunya bazar di Taman Literasi Kebayoran Baru, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Siti berharap, pemerintah dapat terus membantu memperluas pemasaran produk agar semakin banyak warga yang termotivasi mengolah sampah menjadi produk kreatif bernilai jual.
Sementara itu, Camat Duren Sawit, Kelik Sutanto mengapresiasi program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dijalankan warga RW 12, Kelurahan Malaka Jaya. Terlebih, kegiatan tersebut sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta terkait pemilahan sampah dari sumbernya.
"Tugas kami sekarang memfasilitasi, mempertemukan antara pihak UP2K RW 12 ini dengan buyer-buyer yang ada. Kendalanya memang masih belum banyak buyer yang tertarik dengan produk-produk UP2K," imbuhnya.
Ia menginginkan agar kelompok UP2K terus melakukan inovasi desain agar produk yang dihasilkan semakin modern dan diminati generasi muda.
"Produk-produknya harus terus diperbarui supaya lebih kekinian dan menarik bagi Gen Z," tandasnya.