Rabu, 08 April 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 214
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Upaya menekan angka stunting di Jakarta Selatan terus digencarkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta menegaskan komitmennya melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Tahun 2026 Tematik Stunting.
"Generasi muda yang sehat dan berkualitas"
Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar mengatakan, stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan ancaman serius bagi kualitas generasi masa depan. Berbagai pendekatan terus disempurnakan agar penanganan stunting lebih terintegrasi dan tepat sasaran.
"Kalau tidak ditekan dari sekarang, angka stunting bisa meningkat di masa mendatang. Fokus kami jelas, menciptakan generasi muda yang sehat dan berkualitas," ujarnya, di Ruang Antasari, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu (8/4).
Meski saat ini Jakarta Selatan mencatat angka stunting terendah di DKI Jakarta, yakni 14,5 persen, Anwar mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri.
"Target jangka panjang, termasuk visi Indonesia 2045 menuntut kerja bertahap yang dimulai sejak sekarang," terangnya.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Peran aktif masyarakat, tenaga kesehatan hingga organisasi kemasyarakatan sangat dibutuhkan.
"Ini tanggung jawab bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat," ungkapnya.
Ia berharap, Musrenbang tematik ini mampu menghasilkan langkah konkret yang berdampak langsung, mulai dari peningkatan gizi, perbaikan sanitasi, hingga kualitas lingkungan dan air bersih.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Subanpekko Jakarta Selatan, Hera Lidiawati memaparkan, berdasarkan hasil program Gerebek Stunting Tahun 2025, dari 64.213 balita yang ditimbang, sebanyak 794 anak teridentifikasi mengalami stunting.
Hera menjelaskan, penyebab utama stunting masih didominasi faktor langsung seperti asupan gizi tidak seimbang (62 persen) dan riwayat penyakit infeksi (32 persen).
Selain itu, terdapat faktor tidak langsung seperti kurangnya gizi saat kehamilan, imunisasi tidak lengkap, kebiasaan merokok dalam keluarga, hingga praktik buang air besar sembarangan.
"Faktor-faktor ini harus ditangani secara menyeluruh, tidak bisa parsial," ucapnya.
Ia menuturkan, para camat diminta dapat segera menginput hasil Pra-Musrenbang Tematik Stunting ke dalam sistem nasional. Langkah ini diharapkan memperkuat sinergisitas antarwilayah dalam percepatan penurunan stunting.
"Melalui kombinasi strategi dan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis mampu menekan prevalensi stunting secara signifikan hingga mencapai zero stunting," tandasnya.