Musrenbang Tingkat Kota Jaksel Perkuat Komitmen Atasi Stunting

Rabu, 08 April 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 480

Kovergensi stunting jaksel tiyo

(Foto: Tiyo Surya Sakti)

Upaya menekan angka stunting di Jakarta Selatan terus digencarkan. Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta menegaskan komitmennya melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Tahun 2026 Tematik Stunting.

"Generasi muda yang sehat dan berkualitas"

Wali Kota Jakarta Selatan, Muhammad Anwar mengatakan, stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan ancaman serius bagi kualitas generasi masa depan. Berbagai pendekatan terus disempurnakan agar penanganan stunting lebih terintegrasi dan tepat sasaran.

"Kalau tidak ditekan dari sekarang, angka stunting bisa meningkat di masa mendatang. Fokus kami jelas, menciptakan generasi muda yang sehat dan berkualitas," ujarnya, di Ruang Antasari, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Rabu (8/4).

Meski saat ini Jakarta Selatan mencatat angka stunting terendah di DKI Jakarta, yakni 14,5 persen, Anwar mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri. 

"Target jangka panjang, termasuk visi Indonesia 2045 menuntut kerja bertahap yang dimulai sejak sekarang," terangnya.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Peran aktif masyarakat, tenaga kesehatan hingga organisasi kemasyarakatan sangat dibutuhkan.

"Ini tanggung jawab bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat," ungkapnya.

Ia berharap, Musrenbang tematik ini mampu menghasilkan langkah konkret yang berdampak langsung, mulai dari peningkatan gizi, perbaikan sanitasi, hingga kualitas lingkungan dan air bersih.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Subanpekko Jakarta Selatan, Hera Lidiawati memaparkan, berdasarkan hasil program Gerebek Stunting Tahun 2025, dari 64.213 balita yang ditimbang, sebanyak 794 anak teridentifikasi mengalami stunting.

Hera menjelaskan, penyebab utama stunting masih didominasi faktor langsung seperti asupan gizi tidak seimbang (62 persen) dan riwayat penyakit infeksi (32 persen). 

Selain itu, terdapat faktor tidak langsung seperti kurangnya gizi saat kehamilan, imunisasi tidak lengkap, kebiasaan merokok dalam keluarga, hingga praktik buang air besar sembarangan.

"Faktor-faktor ini harus ditangani secara menyeluruh, tidak bisa parsial," ucapnya.

Ia menuturkan, para camat diminta dapat segera menginput hasil Pra-Musrenbang Tematik Stunting ke dalam sistem nasional. Langkah ini diharapkan memperkuat sinergisitas antarwilayah dalam percepatan penurunan stunting.

"Melalui kombinasi strategi dan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis mampu menekan prevalensi stunting secara signifikan hingga mencapai zero stunting," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Anak terindikasi stunting budi

Balita Teridikasi Stunting di Jelambar Nikmati Layanan Ajelita

Senin, 06 April 2026 1197

IMG 20260225 WA0013

Munjirin Ajak ASN Jadi Orang Tua Asuh Balita Stunting

Rabu, 25 Februari 2026 573

Pemanfaatan lahan untuk urban farming

Wagub Paparkan Langkah Strategis Kembangkan Ketahanan Pangan dan Atasi Stunting

Senin, 08 September 2025 3591

BERITA POPULER
Wagub jalan amblas lenteng otoy

Rano Apresiasi Penanganan Jalan Amblas di Lenteng Agung

Selasa, 02 Juni 2026 4485

Sampah laut Jakarta bilal

Pramono Minta Sampah di Muara Angke Rutin Dibersihkan

Minggu, 07 Juni 2026 1044

Proyek pekerjaan padatkarya jati2

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Kerja Padat Karya

Jumat, 05 Juni 2026 1372

Pramono pilah sampah rasuna said bilal

Lomba Pilah Sampah Sektor Horeka, Pemprov DKI Siapkan Insentif Pajak

Minggu, 07 Juni 2026 678

Pmi jaksel bantuan kebakaran kemayoran tiyo

PMI Jaksel Ikut Bantu Penyintas Kebakaran di Kebon Kosong

Kamis, 04 Juni 2026 1272

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks