Kamis, 13 November 2025 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 373
(Foto: Istimewa)
Sebanyak 40 pelajar tingkat SMP dan sederajat antusias mengikuti kegiatan Pentas Literasi bertema "Perundungan (Bullying): Stand Out, Speak Out, Mulai dari Kita!' yang diselenggarakan Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Sudin Pusip) Jakarta Utara bersama Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Dinas PPAPP) DKI Jakarta.
Salah seorang siswa SMPN 143 Jakarta,
Andika (14) mengaku senang dapat mengikuti kegiatan ini karena mendapatkan banyak pemahaman baru tentang berbagai bentuk kekerasan serta cara melindungi diri dari hal negatif di dunia digital.
"Sekarang saya lebih paham kalau bullying itu bukan cuma fisik, tapi juga bisa lewat kata-kata dan media sosial. Kita harus lebih hati-hati dan saling menghormati," ujarnya, di lokasi acara, Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Kamis (13/11).
Menurut Andika, tindakan perundungan sering kali berawal dari candaan yang tidak disadari dapat menyakiti perasaan orang lain.
"Awalnya cuma bercanda, tapi lama-lama bisa jadi dendam dan muncul keinginan mem-bully supaya merasa lebih tinggi dari yang lain," terangnya.
Hal serupa disampaikan peserta didik SMPN 143 Jakarta, Najwa (13). Ia menilai bahwa kondisi keluarga juga dapat memengaruhi perilaku seseorang hingga menjadi pelaku perundungan.
"Pelaku bullying kadang tumbuh di lingkungan keluarga yang kurang harmonis, jadi mereka melampiaskan perasaan dengan cara yang salah. Saya senang dan berterima kasih telah diajak mengikuti kegiatan ini," ungkapnya.
Tenaga Ahli Pusat Pelayanan Keluarga Dinas PPAPP DKI Jakarta, Ridho menjelaskan, perundungan merupakan perbuatan tercela yang bisa berbentuk fisik, verbal, psikis, maupun melalui dunia maya.
Ia juga memperkenalkan berbagai bentuk kekerasan lain seperti kekerasan seksual, ekonomi, dan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang kini banyak terjadi di media sosial.
"Bullying itu perbuatan yang salah karena dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun batin. Mulailah dari diri sendiri untuk berhenti mem-bully dan berani bersuara membela teman yang menjadi korban," tegasnya.
Ridho berharap, para pelajar yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya, dengan menumbuhkan budaya saling menghargai dan menolak segala bentuk perundungan.
"Kami ingin anak-anak sadar bahwa membaca bukan hanya tentang buku, tetapi juga tentang memahami nilai-nilai kehidupan, termasuk menghargai sesama," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Sudin Pusip Jakarta Utara, Gunas Mahdianto mengatakan, Pentas Literasi merupakan program rutin yang digelar untuk menumbuhkan minat baca sekaligus memperluas wawasan anak dalam berbagai aspek kehidupan.
"Kegiatan ini diikuti 40 pelajar yang berasal dari SMP At-Taufiq, SMP Nurul Iman, SMP Baburridho, SMP YAPPENDA, serta SMPN 55, 95, 143, dan 266 Jakarta. Hari ini kami melibatkan Dinas PPAPP untuk memberikan materi terkait perundungan yang kerap terjadi di sekolah," imbuhnya.
Gunas memastikan, kegiatan Pentas Literasi tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan pemahaman nilai-nilai sosial di kalangan pelajar.
"Pentas literasi itu bukan sekadar membaca buku, tetapi juga memberikan wawasan kepada generasi muda untuk kehidupan sehari-hari," tandasnya.