Senin, 19 Mei 2025 Reporter: Aldi Geri Lumban Tobing Editor: Erikyanri Maulana 224
(Foto: Nugroho Sejati)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) terus memperketat pengawasan terhadap kelayakan dan kesehatan hewan kurban yang dijual di wilayah ibu kota menjelang perayaan Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah.
"Pemeriksaan kita lakukan mulai dari lokasi penjualan,"
Hal ini dilakukan guna memastikan masyarakat memperoleh hewan kurban yang sehat, layak, dan sesuai syariat.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok mengatakan, pengawasan terhadap hewan kurban sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap tahun. Ia menyampaikan, fokus utama dari pengawasan tersebut adalah memastikan bahwa lokasi penjualan dan kondisi hewan kurban telah memenuhi standar kelayakan.
“Memang ini kegiatan rutin yang setiap tahun biasa kami laksanakan. Pemeriksaan kita lakukan mulai dari lokasi penjualan, kelengkapan surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal, hingga kondisi fisik hewan kurban itu sendiri,” ujar Hasudungan, Senin (19/5).
Dijelaskan Hasudungan, Dinas KPKP DKI Jakarta telah melakukan pemeriksaan di 14 titik lokasi penjualan hewan kurban yang tersebar di lima wilayah kota hingga Mei 2025. Dari pemeriksaan tersebut, tercatat 3.159 ekor hewan telah diperiksa, terdiri dari 2.492 ekor sapi dan 667 ekor kambing atau domba.
“Pemeriksaan ini akan terus dilakukan menjelang Iduladha untuk memastikan semua hewan kurban yang dijual di Jakarta dalam kondisi sehat dan layak,” tambahnya.
Ia mengatakan, pemeriksaan yang dilakukan mencakup tiga aspek utama. Pertama, kelayakan lokasi penjualan hewan kurban. Menurutnya, lokasi penjualan harus sesuai dengan izin yang telah ditetapkan oleh masing-masing pemerintah kota, dan tidak diperkenankan berada di ruang terbuka publik seperti taman, trotoar, atau fasilitas umum lainnya.
“Jangan sampai ada penjualan hewan kurban di trotoar atau taman yang mengganggu ketertiban umum,” tegasnya.
Kedua, pemeriksaan dokumen kesehatan hewan dari daerah asal, termasuk bukti vaksinasi hewan terhadap penyakit seperti antraks, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta Lumpy Skin Disease (LSD).
Ketiga, pengecekan kondisi fisik hewan kurban secara organoleptik. Pemeriksaan ini meliputi pengecekan anatomi hewan, seperti kelengkapan organ, kondisi tanduk dan kaki, serta memastikan hewan tidak cacat atau sakit.
“Umur hewan juga menjadi aspek penting, kambing minimal berusia dua tahun, sedangkan sapi di atas dua setengah tahun,” ucapnya.
Terkait kondisi kesehatan hewan, Hasudungan menyampaikan bahwa sejauh ini belum ditemukan kasus penyakit serius seperti antraks atau PMK. Namun demikian, beberapa hewan ditemukan mengalami penyakit ringan seperti radang mata, lecet kulit, pincang akibat transportasi, dan kelelahan karena perjalanan jauh.
“Keluhan ringan ini umum terjadi, tapi langsung kami tangani. Petugas langsung memberikan penanganan berupa vitamin, makanan, dan istirahat agar hewan bisa pulih. Tidak ada temuan penyakit berbahaya hingga saat ini,” tandasnya.