Petani Milenial Jakarta Eksis di Tengah Keterbatasan Lahan

Rabu, 04 November 2020 17:08 Reporter : Aldi Geri Lumban Tobing Editor : Toni Riyanto 1675

(Foto: Aldi Geri Lumban Tobing - Beritajakarta.id)

Keterbatasan lahan di Jakarta bukan menjadi halangan bagi para petani milenial di ibu kota. Meski berusia muda mereka memilih menjadi petani yang tidak sekadar menyalurkan hobi, tapi juga sebagai bidang pekerjaan atau bisnis yang menjanjikan.

Ada peluang besar,

Secara khusus, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengadakan webinar dengan tema "Bincang-bincang Bersama Petani Milenial di Jakarta".

Hadir sebagai narasumber bincang-bincang secara virtual tersebut, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman, Suharti; Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania; Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati; Guru Besar/Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Peryanian Bogor, Ujang Sumarman.

Webinar ini juga diikuti sejumlah figur publik seperti, Mumahammad Haykal Kamil, Cut Yanthi, dan Ignasius Jonan, serta ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu isu yang mengemuka dalam bincang-bincang tersebut yakni terkait teknologi blockchain pada sektor urban farming.

Teknologi ini dinilai potensial karena berfungsi untuk menjamin rekam jejak aliran produk urban farming dari hulu hingga ke hilir sehingga dapat saling mengontrol satu dengan yang lain dengan data terintegrasi.

Teknologi ini dapat meliputi data umum terkait identitas dan latar belakang petani; data hasil geo-tagging seperti luas dan lokasi lahan; aktivitas urban farming; data terkait ekologi, data terkait pasar, harga, dan transaksi. Hal ini dapat menciptakan marketplace yang kompetitif dan pemanfaatan berbagai e-commers.

Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman, Suharti mengatakan, saat ini hampir 100 persen suplai pangan sayur-mayur dan buah-buahan masih berasal dari luar Jakarta. Tentunya, ini menjadi tantangan dan peluang.

"Ada peluang besar karena keuntungan komparatifnya menjadi besar kalau kita bisa produksi sendiri di Jakarta. Sebab, saat menjual kita tidak perlu memperhitungkan biaya transportasi. Terlebih, tingkat kesegaran juga terjamin karena diproduksi di Jakarta," ujarnya, Rabu (4/11).

Suharti mendorong petani milenial di Jakarta ini membentuk suatu lembaga atau perkumpulan berbadan hukum yang bisa memudahkan untuk menjalin kerja sama tidak hanya dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tapi dengan pihak lain atau stakeholder.  

"Jakarta punya Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB), kalau bisa masuk ke dalam platform itu kami carikan donaturnya sesuai dengan kebutuhan baik modal, peralatan, hingga pelatihan, kita bisa fasilitasi. Jadi para petani-petani muda ini bisa berdiskusi untuk mencari apa yang sebenarnya dibutuhkan nanti kita carikan yang bisa membantu," terangnya.

Suharti menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta membuka diri terhadap pemikiran atau gagasan dari para petani milenial. Bukan hanya untuk mengetahui kebutuhan para petani, tapi juga menjadi bagian formulasi regulasi yang dibutuhkan untuk pengembangan pertanian di Jakarta.  

"Mereka perlu kita libatkan juga dalam pembuatan keputusan atau kebijakan terkait pertanian di Jakarta," ungkapnya.

Ia menambahkan, jumlah penduduk di Jakarta bertambah, begitu juga kebutuhan konsumsi pangan. Maka itu, para petani milenial tidak perlu khawatir karena pasar akan terus ada dan berkembang.

"Jadi jika kita bisa meningkatkan kualitas dan variasi hasil produksi maka pasar itu selalu ada di dekat kita," ucapnya.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati mengungkapkan, webinar ini salah satunya diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober.

"Kita ingin terus menggali potensi petani milenial di Jakarta dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dan penghijauan," jelasnya.

Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengonsolidasikan data-data terkait urban farming yang dapat membantu petani milenial untuk bisa mengembangkan kegiatan pertanian di perkotaan.

"Kami memiliki data-data yang terkonsolidasi di dalam database kami yang kemudian juga bisa open public untuk membantu pelaku urban farming memulai dan mengembangkan pertanian perkotaan ini," ucap Atika.

Menurutnya, salah satu fokus Jakarta Smart City yakni terpenuhinya aspek ketahanan pangan. Hal ini membuka peluang startup-startup pertanian untuk berkolaborasi mengembangkan aplikasi yang dapat membantu pemanfaatan dan peningkatan produktivitas yang menyasar petani milenial sebagai konsumen utama teknologi.

"Kami mengundang petani milenial untuk bergabung dalam ekosistem Jakarta Smart City, terutama dalam aspek ketahanan pangan. Ide, kebutuhan, dan saling diskusi terkait dengan apa yang akan kita lakukan ke depan untuk menjadikan green lifestyle sebuah ujung tombak kelestarian dari kota ini. Ini akan menjadi kerja bersama dari masyarakat terutama dalam hal ini para petani milenial," kata Atika.

Salah seorang petani milenial Jakarta, Ahmad Fahrizal dari Kelompok Tani Sejahtera Makmur menuturkan, secara khusus sudah mengembangkan pembibitan pohon alpukat cimpedak.

"Kami sudah melakukan labelisasi. Untuk  pemasaran sudah sampai 5.000-7.000 bibit ke berbagai daerah. Kami memanfaatkan pemasaran secara online melalui media sosial," urainya.

Sementara itu, salah seorang figur publik yang pernah menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia periode 2016-2019  mengapresiasi Pemprov DKI Jakarta yang telah mengadakan bincang-bincang dengan petani milenial.

"Webinar ini sangat bagus, bisa mempertemukan penggiat pertanian, khususnya generasi milenial untuk berdiskusi dan berbagi informasi," tuturnya.

Jonan memotivasi petani milenial agar tidak malu dan takut menggeluti pertanian perkotaan sebagai bisnis yang menjanjikan. Sebab, Jepang yang sangat maju berusaha pertaniannya sustainable atau kebutuhan pokok makanan tidak impor.

"Ini kesempatan untuk urban farming, dan peluang itu ada. Jangan malu menjadi petani. Salut kepada Pemprov DKI yang sudah mengadakan webinar urban farming dengan nuansa milenial yang semua senang mengikuti kegiatan ini," tandasnya.