Kearifan Lokal Diminta Jadi Kurikulum Wajib Sekolah

Selasa, 14 Oktober 2014 Reporter: Agustian Anas Editor: Agustian Anas 5209

tatang hidayat lkb betawi

(Foto: doc)

Kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas V Sekolah Dasar Trisula Perwari di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, yang dihajar habis-habisan teman-teman kelasnya sungguh memilukan dan membuat prihatin berbagai pihak.

Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan

Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Tatang Hidayat, mengatakan, para siswa-siswi SD tersebut adalah tunas-tunas harapan masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Namun yang mereka lakukan jelas-jelas bukan mencerminkan budaya bangsa Indonesia yang santun, egaliter, toleran, dan guyub.

"Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan, tergerus oleh maraknya budaya luar yang cenderung membentuk pribadi individualis, egois, bahkan anarkis.  Bayangkan, mereka adalah siswi sekolah dasar dan kejadiannya pun di musholla sekolah simbol penguatan akidah dan akhlak," ujar Tatang, Selasa (14/10).

Menurut tokoh muda Betawi ini, pemerintah harus segera melakukan penanganan ekstrim dengan memberlakukan kearifan lokal sebagai kurikulum wajib di setiap sekolah secara nasional melalui pemerintah daerah masing masing, melibatkan tokoh masyarakat dan pemangku adat sebagai penguatan implementasi sekaligus pengawasan di luar jam belajar.

"Sekolah adalah lembaga formal pendidikan yang bukan saja harus melahirkan generasi cerdas namun juga membentuk siswa berkarakter budaya, dimana kurikulum menjadi standar basis pelajaran wajib yang harus diperoleh murid dan guru dalam kegiatan belajar mengajar," jelasnya.

Slogan tujuan pendidikan nasional, kata mantan Komandan Nasional Banser NU ini, hendaknya diikuti dengan tindakan nyata, memecat guru bukan solusi namun mengurai akar persoalan menjadi hal yang sangat penting.

"Tidak mustahil kejadian serupa akan terjadi di tempat lain bila tidak ada perubahan dalam kebijakan pengelolaan kelas. Ukuran kemajuan pembangunan bukan semata pada peningkatan fisik dan angka, namun juga harus melahirkan masyarakat yang berkebudayaan," tegasnya.

BERITA TERKAIT
ngaduk dodol beritajakarta

Nikmatnya Gabus Pucung di Lebaran Betawi

Sabtu, 13 September 2014 7241

Abnon Cilik LKB

80 Peserta Ikuti Lomba Abnon Cilik LKB

Minggu, 22 Juni 2014 11512

wawancara_ahok-buruh.jpg

Tentara Inggris Belajar Tangani Banjir dari Jakarta

Kamis, 19 Juni 2014 2872

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Selasa, 10 Juni 2014 13000

pintu masuk setu

Jaksel Kembangkan 5 Potensi Budaya Betawi

Jumat, 11 April 2014 13588

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2836

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1250

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 1038

Gempa kepulauan seribu ist2

Gempa di Perairan Pulau Seribu Tidak Akibatkan Kerusakan

Sabtu, 12 September 2026 1178

IMG 20260917 WA0098

111 Kucing di Dua Pulau Sudah Disterilisasi dan Divaksin Rabies Gratis

Kamis, 17 September 2026 573

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks