Kearifan Lokal Diminta Jadi Kurikulum Wajib Sekolah

Selasa, 14 Oktober 2014 Reporter: Agustian Anas Editor: Agustian Anas 5153

tatang hidayat lkb betawi

(Foto: doc)

Kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas V Sekolah Dasar Trisula Perwari di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, yang dihajar habis-habisan teman-teman kelasnya sungguh memilukan dan membuat prihatin berbagai pihak.

Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan

Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Tatang Hidayat, mengatakan, para siswa-siswi SD tersebut adalah tunas-tunas harapan masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Namun yang mereka lakukan jelas-jelas bukan mencerminkan budaya bangsa Indonesia yang santun, egaliter, toleran, dan guyub.

"Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan, tergerus oleh maraknya budaya luar yang cenderung membentuk pribadi individualis, egois, bahkan anarkis.  Bayangkan, mereka adalah siswi sekolah dasar dan kejadiannya pun di musholla sekolah simbol penguatan akidah dan akhlak," ujar Tatang, Selasa (14/10).

Menurut tokoh muda Betawi ini, pemerintah harus segera melakukan penanganan ekstrim dengan memberlakukan kearifan lokal sebagai kurikulum wajib di setiap sekolah secara nasional melalui pemerintah daerah masing masing, melibatkan tokoh masyarakat dan pemangku adat sebagai penguatan implementasi sekaligus pengawasan di luar jam belajar.

"Sekolah adalah lembaga formal pendidikan yang bukan saja harus melahirkan generasi cerdas namun juga membentuk siswa berkarakter budaya, dimana kurikulum menjadi standar basis pelajaran wajib yang harus diperoleh murid dan guru dalam kegiatan belajar mengajar," jelasnya.

Slogan tujuan pendidikan nasional, kata mantan Komandan Nasional Banser NU ini, hendaknya diikuti dengan tindakan nyata, memecat guru bukan solusi namun mengurai akar persoalan menjadi hal yang sangat penting.

"Tidak mustahil kejadian serupa akan terjadi di tempat lain bila tidak ada perubahan dalam kebijakan pengelolaan kelas. Ukuran kemajuan pembangunan bukan semata pada peningkatan fisik dan angka, namun juga harus melahirkan masyarakat yang berkebudayaan," tegasnya.

BERITA TERKAIT
ngaduk dodol beritajakarta

Nikmatnya Gabus Pucung di Lebaran Betawi

Sabtu, 13 September 2014 7183

Abnon Cilik LKB

80 Peserta Ikuti Lomba Abnon Cilik LKB

Minggu, 22 Juni 2014 11391

wawancara_ahok-buruh.jpg

Tentara Inggris Belajar Tangani Banjir dari Jakarta

Kamis, 19 Juni 2014 2831

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Selasa, 10 Juni 2014 12911

pintu masuk setu

Jaksel Kembangkan 5 Potensi Budaya Betawi

Jumat, 11 April 2014 13425

BERITA POPULER
IMG 20260728 WA0142

85 Peserta Sekolah Lansia di Jakut Diwisuda

Selasa, 28 Juli 2026 9239

Pemkot Jaktim Fasilitasi Evy Tinggal di Rusun Pulo Gebang

Pemkot Jaktim Fasilitasi Evy Tinggal di Rusun Pulo Gebang

Jumat, 31 Juli 2026 3208

Operasi Lintas Jaya Jaktim nur

14 Kendaraan Kedapatan Parkir Liar di Jaktim Ditindak

Selasa, 28 Juli 2026 3629

MRT Jakarta Jalin Kerja Sama Peningkatan Layanan Pengumpulan Tarif Otomatis Fase 1 Lin Utara Selatan

MRT Jakarta Sepakati Kerja Sama Peningkatan Layanan Sistem Pengumpulan Tarif Otomatis

Rabu, 29 Juli 2026 1924

IMG 20260731 WA0041

Area Kumuh Sekitar Terminal Tanjung Priok Ditata Jadi Taman

Jumat, 31 Juli 2026 1490

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks