Kearifan Lokal Diminta Jadi Kurikulum Wajib Sekolah

Selasa, 14 Oktober 2014 Reporter: Agustian Anas Editor: Agustian Anas 5294

tatang hidayat lkb betawi

(Foto: doc)

Kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas V Sekolah Dasar Trisula Perwari di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, yang dihajar habis-habisan teman-teman kelasnya sungguh memilukan dan membuat prihatin berbagai pihak.

Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan

Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Tatang Hidayat, mengatakan, para siswa-siswi SD tersebut adalah tunas-tunas harapan masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Namun yang mereka lakukan jelas-jelas bukan mencerminkan budaya bangsa Indonesia yang santun, egaliter, toleran, dan guyub.

"Kejadian ini sekaligus menjadi pembuktian betapa penanaman karakater melalui kearifan lokal sudah semakin tipis dan lambat laun akan dilupakan, tergerus oleh maraknya budaya luar yang cenderung membentuk pribadi individualis, egois, bahkan anarkis.  Bayangkan, mereka adalah siswi sekolah dasar dan kejadiannya pun di musholla sekolah simbol penguatan akidah dan akhlak," ujar Tatang, Selasa (14/10).

Menurut tokoh muda Betawi ini, pemerintah harus segera melakukan penanganan ekstrim dengan memberlakukan kearifan lokal sebagai kurikulum wajib di setiap sekolah secara nasional melalui pemerintah daerah masing masing, melibatkan tokoh masyarakat dan pemangku adat sebagai penguatan implementasi sekaligus pengawasan di luar jam belajar.

"Sekolah adalah lembaga formal pendidikan yang bukan saja harus melahirkan generasi cerdas namun juga membentuk siswa berkarakter budaya, dimana kurikulum menjadi standar basis pelajaran wajib yang harus diperoleh murid dan guru dalam kegiatan belajar mengajar," jelasnya.

Slogan tujuan pendidikan nasional, kata mantan Komandan Nasional Banser NU ini, hendaknya diikuti dengan tindakan nyata, memecat guru bukan solusi namun mengurai akar persoalan menjadi hal yang sangat penting.

"Tidak mustahil kejadian serupa akan terjadi di tempat lain bila tidak ada perubahan dalam kebijakan pengelolaan kelas. Ukuran kemajuan pembangunan bukan semata pada peningkatan fisik dan angka, namun juga harus melahirkan masyarakat yang berkebudayaan," tegasnya.

BERITA TERKAIT
ngaduk dodol beritajakarta

Nikmatnya Gabus Pucung di Lebaran Betawi

Sabtu, 13 September 2014 7347

Abnon Cilik LKB

80 Peserta Ikuti Lomba Abnon Cilik LKB

Minggu, 22 Juni 2014 11655

wawancara_ahok-buruh.jpg

Tentara Inggris Belajar Tangani Banjir dari Jakarta

Kamis, 19 Juni 2014 2939

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Kampung Betawi Hadir di Arena PRJ

Selasa, 10 Juni 2014 13121

pintu masuk setu

Jaksel Kembangkan 5 Potensi Budaya Betawi

Jumat, 11 April 2014 13792

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7108

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4798

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 1868

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2467

Binamarga penertiban kabel udara sunter jakut jati

5,6 Kilometer Kabel Udara di Tanjung Priok Dipindah ke SJUT

Senin, 02 November 2026 1008

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks