Kerugian Banjir di DKI Ditaksir Tak Sampai Rp 20 T
Sabtu, 25 Januari 2014
Reporter: Lopi Kasim
Editor: Dunih
2891
(Foto: doc)
Bencana banjir di DKI Jakarta selama beberapa hari ini menimbulkan kerugian yang cukup besar di berbagai sektor. Baik itu sektor perdagangan, industri, rumah tangga, transportasi dan lainnya. Namun demikian, diperkirakan kerugian akibat banjir yang melanda DKI Jakarta tahun 2014 ini, tidak sebesar banjir tahun 2013 lalu yang mencapai Rp 20 trilliun.
"Banjir sampai saat ini masih belum selesai, di beberapa tempat masih mengalami banjir. Untuk itu kita belum bisa pastikan dan sebut berapa nominal kerugian yang dialami wilayah DKI Jakarta selama banjir. Untuk menentukan itu kita akan melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait untuk memastikan besaran angka kerugiannya. Namun yang pasti, diperkirakan tidak seperti tahun lalu yang mencapai angka 20 trilliun," ujar Sarman Simoranjang, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta kepada beritajakarta.com, Sabtu (25/1).
Dikatakan Sarman, kerugian yang dialami ketika musibah banjir terjadi di sentra-sentra perdagangan dan industri. "Kawasan perdagangan seperti di Cipulir, Kelapa Gading, Jatinegara, Tanah Abang, paling besar mengalami kerugian karena memang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Walaupun kawasan tersebut sudah tidak lagi banjir, tapi masyarakat atau konsumen yang mau menuju ke sana menjadi terganggu dengan adanya banjir. Akibatnya nilai transaksi menjadi berkurang," tuturnya.
Tidak hanya itu, lanjut Sarman, kerugian juga dialami sektor lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti sektor transportasi, kereta api, bus Transjakarta, PLN dan lain sebagainya. "Tapi seperti tahun lalu di PIK (Pusat Industri Kecil) Pulogadung, banjir mencapai 1 meter bahkan lebih sehingga melumpuhkan aktivitas pabrik. Hal itu tidak terjadi pada tahun ini, walaupun banjir masih terjadi namun dengan ketinggian sekitar 50 meter dan aktivitas pabrik masih bisa beroperasi," terangnya.
Yang justru harus diwaspadai, tambah Sarman, adalah peningkatan laju inflasi yang disebabkan naiknya harga-harga kebutuhan sehari-hari seperti sayur mayur dan lain sebagainya. Hal itu lantaran pasokan barang-barang kebutuhan sampai saat ini masih banyak yang mengalami gangguan di lintas Jawa dan Sumatera.
"Justru yang harus diwaspadai adalah harga kebutuhan seperti bawang dan sayur mayur yang dipasok dari luar daerah. Beberapa komoditi itu ada yang masih tertahan di jalan seperti Pantura, karena tidak bisa menembus macet dan banjir. Misalnya saja bawang yang dari Brebes belum bisa masuk ke Jakarta, akibatnya harganya dalam beberapa hari ini mengalami kenaikan," tandasnya.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
Lapak Bensin Eceran di Jl Hadiah Utama Ditertibkan
Senin, 02 Februari 2026
3209
Hujan Merata Diprakirakan Basahi Jakarta Hari Ini
Senin, 02 Februari 2026
736
BPS Catat DKI Alami Deflasi 0,23 Persen Selama Januari 2026
Senin, 02 Februari 2026
641
Sudin Kominfotik Jakut Berkolaborasi Tingkatkan Literasi Digital