Kerugian Banjir di DKI Ditaksir Tak Sampai Rp 20 T

Sabtu, 25 Januari 2014 Reporter: Lopi Kasim Editor: Dunih 3049

banjir_jakarta_rugi_perusahaan.jpg

(Foto: doc)

Bencana banjir di DKI Jakarta selama beberapa hari ini menimbulkan kerugian yang cukup besar di berbagai sektor. Baik itu sektor perdagangan, industri, rumah tangga, transportasi dan lainnya. Namun demikian, diperkirakan kerugian akibat banjir yang melanda DKI Jakarta tahun 2014 ini, tidak sebesar banjir tahun 2013 lalu yang mencapai Rp 20 trilliun.

"Banjir sampai saat ini masih belum selesai, di beberapa tempat masih mengalami banjir. Untuk itu kita belum bisa pastikan dan sebut berapa nominal kerugian yang dialami wilayah DKI Jakarta selama banjir. Untuk menentukan itu kita akan melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait untuk memastikan besaran angka kerugiannya. Namun yang pasti, diperkirakan tidak seperti tahun lalu yang mencapai angka 20 trilliun," ujar Sarman Simoranjang, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta kepada beritajakarta.com, Sabtu (25/1).

Dikatakan Sarman, kerugian yang dialami ketika musibah banjir terjadi di sentra-sentra perdagangan dan industri. "Kawasan perdagangan seperti di Cipulir, Kelapa Gading, Jatinegara, Tanah Abang, paling besar mengalami kerugian karena memang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Walaupun kawasan tersebut sudah tidak lagi banjir, tapi masyarakat atau konsumen yang mau menuju ke sana menjadi terganggu dengan adanya banjir. Akibatnya nilai transaksi menjadi berkurang," tuturnya.

Tidak hanya itu, lanjut Sarman, kerugian juga dialami sektor lainnya yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti sektor transportasi, kereta api, bus Transjakarta, PLN dan lain sebagainya. "Tapi seperti tahun lalu di PIK (Pusat Industri Kecil) Pulogadung, banjir mencapai 1 meter bahkan lebih sehingga melumpuhkan aktivitas pabrik. Hal itu tidak terjadi pada tahun ini, walaupun banjir masih terjadi namun dengan ketinggian sekitar 50 meter dan aktivitas pabrik masih bisa beroperasi," terangnya.

Yang justru harus diwaspadai, tambah Sarman, adalah peningkatan laju inflasi yang disebabkan naiknya harga-harga kebutuhan sehari-hari seperti sayur mayur dan lain sebagainya. Hal itu lantaran pasokan barang-barang kebutuhan sampai saat ini masih banyak yang mengalami gangguan di lintas Jawa dan Sumatera.

"Justru yang harus diwaspadai adalah harga kebutuhan seperti bawang dan sayur mayur yang dipasok dari luar daerah. Beberapa komoditi itu ada yang masih tertahan di jalan seperti Pantura, karena tidak bisa menembus macet dan banjir. Misalnya saja bawang yang dari Brebes belum bisa masuk ke Jakarta, akibatnya harganya dalam beberapa hari ini mengalami kenaikan," tandasnya.

BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2515

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1204

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 968

IMG 20260917 WA0098

111 Kucing di Dua Pulau Sudah Disterilisasi dan Divaksin Rabies Gratis

Kamis, 17 September 2026 514

Gub pramono ppid

Bahas Krisis Iklim hingga Pangan, Pramono Bertolak ke New York

Jumat, 18 September 2026 411

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks