Rabu, 04 November 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 24
(Foto: Tiyo Surya Sakti)
Lima sosok inspiratif penggerak pengelolaan sampah di Jakarta Selatan menjalani verifikasi lapangan (Verlap) dalam ajang Lomba Pilah Sampah Heroes tingkat Provinsi DKI Jakarta. Mereka dinilai atas inovasi, kreativitas, serta konsistensinya menggerakkan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah di lingkungan masing-masing.
"Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan"
Kelima finalis tersebut yakni Tri Sugiarti dari RT 08/RW 02, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan; Imam Basori dari RT 011/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru; Talitha Fauzia Chairunissa dari RW 07, Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama; Nadzifah dari RW 06, Kelurahan Jati Padang, Kecamatan Pasar Minggu; serta Liliana Nur Gandi dari SMAN 37 Jakarta, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet.
Juri Teknis dari Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta, Dwi Sukarno mengatakan, lomba yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada 10 November ini bertujuan melahirkan pahlawan lingkungan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Nantinya, pemenang lomba akan diumumkan saat acara puncak peringatan Hari Pahlawan," ujarnya, Rabu (4/11).
Dwi menjelaskan, ajang ini tidak sekadar mencari wilayah dengan pengelolaan sampah terbaik, tetapi juga sosok penggerak yang mampu menjadi komunikator perubahan dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.
"Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil fisik, tetapi juga keberlanjutan program dan keterlibatan masyarakat," ujarnya, Rabu (4/11).
Ia menambahkan, sejumlah indikator yang dinilai meliputi lokasi pemilahan dan pengolahan sampah, aktivitas serta partisipasi warga, produk yang dihasilkan, strategi mengajak masyarakat, hingga inovasi yang dikembangkan.
"Melalui adanya kolaborasi antara inovasi pengolahan dan partisipasi aktif warga, diharapkan ajang ini mampu mencetak figur inspiratif yang terus menggerakkan kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan," terangnya.
Salah seorang finalis dari Kelurahan Gandaria Utara, Imam Basori menuturkan, inovasi pengolahan sampah berbasis teknologi menjadi solusi untuk mengatasi persoalan sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan nilai manfaat sampah organik.
"Pengelolaan sampah di wilayah kami difokuskan pada pemanfaatan teknologi untuk mempercepat proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos," ungkapnya.
Ia memaparkan, sejumlah inovasi yang dikembangkan di antaranya Kompos Keliling dengan metode penjemputan sampah rumah tangga secara langsung dari pintu ke pintu (door-to-door).
Kemudian, Komposter Mandiri (Koma), yakni komposter berkapasitas besar untuk skala RT maupun RW, serta Smart Geprek berupa teknologi pencacah dan pemadat sampah.
"Kita punya Kompos Keliling dengan metode penjemputan sampah door-to-door skala rumah tangga. Komposter Mandiri (Koma), komposter skala besar yang diperuntukkan bagi tingkat RT maupun RW, serta Smart Geprek atau teknologi pencacah dan pemadat sampah berbasis teknologi," bebernya.
Imam menyampaikan, inovasi tersebut lahir dari riset terhadap berbagai keluhan masyarakat dalam pengolahan sampah secara konvensional, seperti bau tidak sedap dan munculnya belatung.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pihaknya juga mengedepankan pendekatan sosial melalui sosialisasi, pertemuan rutin, serta pemberian apresiasi guna meningkatkan partisipasi warga.
" Hasil pengolahan sampah organik dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat. Pupuk kompos yang dihasilkan digunakan untuk membudidayakan sayuran di halaman rumah warga serta mendukung kegiatan budi daya perikanan yang hasilnya dinikmati bersama," imbuhnya.
Sementara itu, finalis asal Kelurahan Ulujami sekaligus pendiri Bank Sampah Tri Alam Lestari, Tri Sugiarti mengutarakan, kegiatan bank sampah yang dikelolanya tidak hanya sebatas penimbangan sampah anorganik, tetapi juga memberikan pelatihan kepada masyarakat agar mampu mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
"Saat ini, Bank Sampah Tri Alam Lestari memiliki 150 nasabah. Setiap pekan, sampah anorganik yang dikumpulkan mencapai sekitar 100 hingga 150 kilogram," ucapnya.
Untuk sampah organik, lanjut Tri, pengolahan dilakukan secara mandiri di sejumlah rumah warga melalui pendampingan pembuatan komposter dan praktik pengomposan bersama.
Saat ini ada total 150 nasabah. Untuk sampah anorganik, rata-rata mereka dapat mengumpulkan sekitar 100 hingga 150 kilogram setiap minggunya.
"Untuk sampah organik, pengolahan dilakukan secara mandiri di beberapa rumah warga melalui pendampingan pembuatan komposter dan praktik pengomposan bersama," jelasnya.
Tidak berhenti pada pengumpulan dan pemilahan, Tri juga mengembangkan berbagai keterampilan pengolahan sampah menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual. Dari bahan kertas koran bekas, misalnya, telah dihasilkan lebih dari 60 jenis kerajinan tangan, seperti kotak tisu, tempat buah, dan piring.
Selain itu, minyak jelantah diolah menjadi lilin dan sabun, sedangkan sampah plastik dimanfaatkan menjadi berbagai produk, seperti tikar dan tas.
Pengelolaan sampah bukan sekadar upaya menjaga kebersihan lingkungan, melainkan juga dapat membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"Mengelola sampah adalah sebuah kebanggaan, membuktikan bahwa kerja kerasnya mampu meningkatkan perekonomian warga, bahkan bisa menyekolahkan anak hingga jenjang sarjana," tandasnya.