Selasa, 27 Oktober 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 184
(Foto: Andri Widiyanto)
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia mendorong Ibu Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) Dharma Wanita Persatuan (DWP) berperan aktif mencegah kekerasan serta menghubungkan korban dengan layanan perlindungan profesional.
Dwi mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius di Jakarta. Berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT P3A), tercatat 2.269 aduan kekerasan sepanjang 2025. Sementara itu, hingga 26 Oktober 2026, sebanyak 2.067 kasus telah ditangani.
"Tidak semua korban berani bercerita,"
Menurutnya, tingginya angka tersebut menjadi keprihatinan bersama. Namun, hal itu juga menunjukkan meningkatnya keberanian korban untuk bersuara dan mencari pertolongan setelah sebelumnya memilih diam karena takut, malu, atau khawatir disalahkan.
"Tidak semua korban memiliki keberanian untuk langsung bercerita atau melapor ke sistem formal. Banyak yang masih diliputi keraguan, merasa tidak memiliki dukungan, takut, malu, serta khawatir disalahkan," ujarnya, dalam acara Pertemuan Rutin dan Pengukuhan Ibu SAPA DWP DKI Jakarta, di Gedung Nyi Ageng Serang, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (27/10).
Dwi menjelaskan, Ibu SAPA memiliki tiga peran utama, yakni sebagai penggerak pencegahan, sahabat yang dipercaya, dan penghubung layanan. Upaya pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui komunikasi yang sehat, pola pengasuhan positif, serta hubungan yang saling menghargai.
Ia juga mengingatkan para kader agar mampu mendengarkan korban tanpa menghakimi, tidak menyalahkan, dan menjaga kerahasiaan informasi. Kader juga harus mengutamakan keselamatan diri serta tidak menghadapi pelaku kekerasan secara mandiri.
"Ibu SAPA harus mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Jangan menyalahkan korban dan wajib menjaga kerahasiaan. Jangan sampai curahan hati korban justru menjadi bahan pergunjingan," tegasnya.
Untuk penanganan lebih lanjut, Ibu SAPA diharapkan dapat menghubungkan korban dengan layanan profesional yang tersedia di Jakarta. Layanan tersebut antara lain Pusat Pelayanan Keluarga (PUSPA) untuk konseling awal dan UPT P3A untuk pendampingan psikologis, bantuan hukum, hingga pendampingan selama proses persidangan.
DPPAPP DKI Jakarta juga berencana memfasilitasi komunikasi antarkader melalui grup WhatsApp. Wadah ini diharapkan memudahkan para kader berkonsultasi ketika menghadapi kendala dalam mendampingi warga, dengan tetap menjaga privasi korban.
Dwi berharap, gerakan Ibu SAPA terus berkembang dan menjangkau lebih banyak anggota DWP, keluarga, serta masyarakat. Dengan dukungan lingkungan terdekat, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak diharapkan semakin kuat.
"Semoga kita dapat terus saling menguatkan. Dinas PPAPP akan selalu siap mendampingi Ibu SAPA sekalian. Harapan kami gerakan ini tidak berhenti di sini, melainkan terus bergulir lebih luas," tandasnya.