Selasa, 27 Oktober 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 133
(Foto: Andri Widiyanto)
Dharma Wanita Persatuan (DWP) DKI Jakarta mengukuhkan perwakilan Ibu Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) dari setiap perangkat daerah serta kota dan kabupaten administrasi. Program ini bertujuan memperkuat perlindungan perempuan dan anak melalui edukasi, pendampingan awal, serta rujukan ke layanan profesional bagi korban kekerasan.
Penasihat DWP DKI Jakarta, Hani Pramono mengajak anggota DWP berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perempuan dan anak. Menurutnya, korban kekerasan kerap menghadapi berbagai hambatan untuk mencari pertolongan, mulai dari rasa takut dan malu hingga kekhawatiran tidak dipercaya.
"Kita tangani bersama,"
"Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan yang perlu kita tangani bersama. Kekerasan dapat terjadi di rumah, di ruang publik, maupun lingkungan sekitar yang seharusnya memberikan rasa aman," ujarnya, dalam Pertemuan Rutin dan Pengukuhan Ibu SAPA DWP DKI Jakarta di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Selasa (27/10).
Hani berharap, Ibu SAPA dapat menjadi sahabat yang siap mendengarkan, menjaga privasi korban, serta membantu mengakses layanan yang tepat. Ia juga mengapresiasi DWP DKI Jakarta, Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP), serta seluruh pihak yang mendukung program tersebut.
"Pada akhirnya, semua upaya kita bermuara pada harapan yang sama, yaitu menghadirkan lingkungan yang aman bagi setiap perempuan dan anak, dimulai dari keluarga kita sendiri," tuturnya.
Ketua DWP DKI Jakarta, Lisniawati Uus Kuswanto menambahkan, Ibu SAPA menjadi wadah komunikasi, informasi, dan edukasi terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak. Para kader diharapkan mampu melakukan asesmen awal, lalu menghubungkan korban dengan layanan profesional sesuai kebutuhan.
Untuk memperkuat kesiapan kader, para perwakilan Ibu SAPA telah mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis. "Ibu SAPA bukan sekadar jabatan, tetapi sosok yang telah dipilih dan dibekali melalui pelatihan serta bimbingan teknis," kata Lisniawati.
Ia menegaskan, kader Ibu SAPA tidak harus menangani seluruh persoalan secara mandiri. Mereka dapat menjadi penghubung bagi korban untuk memperoleh layanan konseling, psikologi, dan pendampingan ahli melalui unit pelaksana DPPAPP DKI Jakarta.
Lisniawati berharap, program Ibu SAPA dapat memperkuat sinergi antara DWP dan DPPAPP dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak, sekaligus mendukung terwujudnya Jakarta sebagai kota layak anak dan ramah perempuan.
"Terima kasih kepada Dinas PPAPP yang bersinergi kepada kami untuk membentuk Ibu SAPA di lingkungan DWP DKI Jakarta. Karena DWP adalah mitra strategis dalam perlindungan perempuan dan anak di Jakarta," tandasnya.