Selasa, 27 Oktober 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 90
(Foto: Nurito)
Sebanyak 600 peserta mengikuti pelatihan Training of Trainer (ToT) LSC 2.0 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Obat dan Keracunan Pangan yang diselenggarakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI di Auditorium i3L University, Jalan Pulomas Barat, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur.
"Meningkatkan kesadaran masyarakat"
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar; psikolog Seto Mulyadi atau Kak Seto; serta Ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta, Cornelia Agatha Dahlia.
Taruna Ikrar mengatakan, pelatihan tersebut diikuti 600 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk unsur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, TNI, Polri, kejaksaan, BPOM, akademisi i3L University.
Kemudian, organisasi profesi seperti Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI), asosiasi pelaku usaha, Kwartir Daerah (Kwarda) DKI Jakarta, serta Saka POM Jakarta.
"Pelatihan bertujuan memperkuat peran para pemangku kepentingan dalam mencegah penyalahgunaan obat-obatan tertentu serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan," ujarnya, Selasa (27/10).
Ia menjelaskan, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada pencegahan penyalahgunaan obat, tetapi juga mendorong peningkatan pemahaman mengenai pangan yang aman dikonsumsi.
"Obat-obatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan apabila digunakan sesuai ketentuan. Namun, penyalahgunaan obat tertentu dapat menimbulkan dampak serius, terutama bagi generasi muda," terangnya.
Ia menuturkan, penyalahgunaan obat tertentu perlu mendapat perhatian karena berpotensi berkaitan dengan berbagai persoalan sosial di kalangan remaja, seperti perkelahian dan tawuran antarpelajar.
"Obat keras tertentu hanya boleh digunakan sesuai peruntukan dan ketentuan yang berlaku. Penggunaan di luar ketentuan tersebut harus dicegah karena berisiko membahayakan kesehatan dan masa depan generasi muda," ungkapnya.
Taruna mencontohkan, penyalahgunaan Tramadol dan Dextromethorphan yang menurutnya perlu mendapat perhatian bersama. Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, BPOM menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha farmasi, perguruan tinggi, serta tokoh yang memiliki pengaruh di masyarakat, seperti Kak Seto.
"Selain edukasi mengenai obat, pelatihan ini juga menyasar peningkatan pemahaman tentang keamanan pangan, khususnya di lingkungan sekolah tingkat SMP dan SMA," bebernya
Ia berharap, peserta dapat meneruskan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih makanan yang aman serta menghindari pangan yang mengandung bahan berbahaya atau menggunakan bahan tambahan pangan secara tidak sesuai ketentuan.
Sementara itu, Kak Seto menyampaikan, pentingnya pendekatan yang ramah dan komunikatif dalam memberikan edukasi kepada anak.
"Mendidik anak dengan cara kasar, membentak, atau menggunakan pendekatan yang menakutkan justru dapat menimbulkan dampak negatif di kemudian hari," ucapnya.
Ia mengajak para pendidik dan pihak yang mendampingi anak untuk memperkenalkan pengetahuan tentang obat-obatan dan makanan aman melalui metode yang menyenangkan serta sesuai dengan usia anak.
"Apakah dengan mendongeng, bercerita, membawa pantun, membuat lagu, atau berdiskusi kalau sudah mulai remaja," imbuhnya.
Ia meyakini pendekatan tersebut dapat membantu anak mengembangkan daya nalar dan kemampuan berpikir kritis sehingga mampu memahami risiko penyalahgunaan obat serta pentingnya memilih makanan yang aman.
Dalam kesempatan itu, Kak Seto juga mengingatkan pentingnya pemenuhan empat hak dasar anak, yakni hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak mendapatkan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan, serta hak untuk didengar pendapatnya.
"Anak perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat dan bertanya. Namun, proses tersebut harus tetap disertai diskusi dan bimbingan yang tepat agar mereka mampu mengambil keputusan secara bijak," tandasnya.