Senin, 26 Oktober 2026 Reporter: Anita Karyati Editor: Toni Riyanto 215
(Foto: Istimewa)
Wakil Wali Kota Jakarta Utara, Fredy Setiawan mengapresiasi pelantikan kader Tamhidul Muballighah Angkatan ke-8 dan dai cilik yang diinisiasi Yayasan Mutiara Al-A’la di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
"Penanaman nilai-nilai keagamaan"
Fredy mengatakan, pembangunan wilayah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta pembinaan spiritual masyarakat.
"Pembangunan tidak cukup bertumpu pada infrastruktur, tetapi harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai keagamaan sejak dini," ujarnya, Senin (26/10).
Fredy menyampaikan tiga pesan penting kepada para peserta. Pertama, dakwah Islam harus disampaikan secara sejuk dan santun untuk mempererat persatuan masyarakat. Kedua, kader muballighah diharapkan berperan aktif dalam memperkuat ketahanan keluarga dan lingkungan sosial. Ketiga, dai cilik perlu membiasakan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.
"Kepada anak-anakku para dai cilik, teruslah belajar dan berbakti kepada orang tua serta guru. Terapkan akhlak mulia melalui kejujuran, menjaga kebersihan lingkungan, dan semangat gotong royong," pesannya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Mutiara Al-A’la, Ummul Barqi menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Majelis Taklim Al-A’la di tiga kecamatan, yakni Tanjung Priok, Koja, dan Cilincing, dengan dukungan Pengurus Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ).
Menurutnya, acara pelantikan dirangkaikan dengan Tabligh Akbar bertema "Mendidik dengan Cinta, Mengasuh dengan Ilmu, dan Menginspirasi dengan Keteladanan".
"Alhamdulillah, kami bersyukur 43 peserta pelatihan Tamhidul Muballighah Angkatan ke-8 telah dinyatakan lulus," ungkapnya
Ummul memaparkan, program pelatihan tersebut membekali para kader dengan kemampuan berbicara di depan umum, retorika persuasif, serta pemahaman psikologi jemaah. Pembekalan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menyampaikan pesan keagamaan secara efektif dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
"Mendidik anak harus meneladani Rasulullah dengan mengedepankan kasih sayang dan keteladanan orang tua dalam beribadah maupun bergaul. Kami ingin melahirkan generasi pendakwah berakhlak mulia yang mampu menjadi teladan di lingkungannya," ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang peserta Tamhidul Muballighah, Yulianti mengaku bersyukur dapat mengikuti pelatihan tersebut. Pembekalan yang diperoleh menjadi bekal penting untuk menjalankan dakwah di tengah masyarakat perkotaan yang beragam.
"Sertifikat ini bukan akhir, melainkan awal amanah untuk mengabdi. Kami belajar bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya secara lembut, bijaksana, dan solutif," tandasnya.