Selasa, 06 Oktober 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 136
(Foto: Andri Widiyanto)
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Muhammad Thamrin mendukung rencana Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mereplikasi pola pengelolaan sampah terpadu dari Sungai Ciliwung ke-11 sungai lainnya di Jakarta. Upaya ini dinilai dapat menangani sampah sejak dari hulu sebelum masuk dan menumpuk di Pintu Air Manggarai.
Dikatakan Thamrin, pengolahan sampah melalui fasilitas penyaringan terpadu seperti di TB Simatupang memungkinkan sampah sungai dipilah dan diolah berdasarkan jenisnya. Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan maggot, sedangkan sampah anorganik dapat dipres untuk kebutuhan industri.
"Itu sudah paling benar,"
"Secara prinsip, langkah Mas Pramono Anung merapikan sampah dari hulu pakai fasilitas saringan terpadu seperti di TB Simatupang itu sudah paling benar dan masuk akal. Daripada capek menunggu sampah menumpuk di Pintu Air Manggarai, lebih baik disaring dari sungai hulu agar bisa langsung dipilah menjadi organik, kompos, maggot, sampai presan anorganik," ujar Thamrin, Selasa (6/10).
Ia menilai, pengelolaan sampah tersebut perlu terintegrasi dengan fasilitas pengolahan lainnya seperti RDF Rorotan, RDF Bantargebang, dan TPS 3R.
Menurut Thamrin, sampah basah dari sungai tidak dapat langsung diproses di fasilitas RDF sehingga membutuhkan penanganan awal. Selain itu, penyerapan hasil pemilahan juga perlu dipastikan agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Selain memperkuat fasilitas pengolahan, Thamrin juga mendorong Pemprov DKI meningkatkan edukasi dan penegakan aturan mulai dari tingkat rumah tangga.
Optimalisasi Pergub Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga dan penguatan kembali Bank Sampah juga dapat membantu mencegah sampah masuk ke saluran air dan sungai sejak awal.
"Kalau TPS 3R di kelurahan jalan, sampah nggak bakal nyemplung ke sungai dari awal," imbuhnya.
Lebih lanjut, Thamrin meminta, Pemprov DKI memperkuat sinergi dengan daerah hulu, khususnya Bogor dan Depok melalui skema bantuan hibah berbasis kinerja. Bantuan tersebut dapat diberikan kepada wilayah penyangga yang mampu membangun fasilitas penyaringan sampah sekaligus menindak pembuangan sampah liar di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.
"Jadi intinya, replikasi ke-11 sungai ini bagus atau top markotop, tetapi kuncinya ada di eksekusi teknis dan kerja sama lintas daerah. Tanpa pemilahan dari rumah tangga dan tanpa menahan sampah kiriman dari wilayah hulu, fasilitas secanggih apa pun tetap bisa kewalahan," tandasnya.