Kamis, 24 September 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Erikyanri Maulana 288
(Foto: Andri Widiyanto)
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi menekankan belum proporsionalnya jumlah guru dengan kebutuhan sekolah di Jakarta. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya beban kerja sebagian guru.
Dikatakan Ghozi, persoalan tersebut diketahui dari hasil rapat dengan Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta dan laporan guru di lapangan. Sebab itu, penambahan guru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran di sekolah.
"Harus memperkuat jalur KKI,"
"Menurut catatan kami pada saat rapat dengan Disdik dan juga laporan di lapangan dengan guru-guru di sekolah, jumlah guru di Jakarta belum proporsional. Sehingga banyak guru yang pembebanan kerjanya besar," ujar Ghozi, Kamis (24/9).
Ia menyebut, Disdik DKI telah membuka 2.545 formasi KKI dalam pembahasan RAPBD 2026, terdiri dari 1.879 formasi pendidik dan 666 tenaga kependidikan untuk jenjang PAUD hingga SMK. Namun, jumlah tersebut belum mencukupi seluruh kebutuhan guru.
"Angka ini belum mencukupi seluruh kekurangan secara kumulatif. Pihak Disdik mengakui adanya penumpukan kekosongan terutama di Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, serta guru produktif SMK," katanya.
Ghozi mendorong penguatan rekrutmen melalui jalur KKI dengan menyesuaikan kebutuhan mata pelajaran dan kondisi masing-masing sekolah.
Menurutnya, penambahan guru juga perlu dibarengi pemenuhan hak guru non-ASN, peningkatan kualifikasi dan sertifikasi melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta menjaga porsi belanja pegawai agar tetap sesuai kemampuan APBD.
"Defisit guru di DKI nyata dan diperparah pembatasan kuota ASN pusat. Namun, pengembangannya harus memperkuat jalur KKI yang sudah berjalan, menjamin kesetaraan gaji dan hak sesuai regulasi, serta menjaga porsi belanja pegawai agar APBD tidak terbebani," tandasnya.