Pimpin Upacara Peringatan Rapat IKADA 2026, Rano Tegaskan Perjuangan Belum Tuntas

Senin, 21 September 2026 Reporter: Budhi Firmansyah Surapati Editor: Budhy Tristanto 445

Wagub rano upacara rapat besar ikada 81 jati

(Foto: Nugroho Sejati)

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memimpin upacara peringatan Hari Rapat Raksasa IKADA ke-81 di Halaman Balai Kota DKI Jakarta, Senin (21/9) pagi. 

Dalam amanatnya, Rano menyampaikan bahwa perjuangan bangsa belum berakhir lantaran masih harus mengentaskan persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, memperluas pendidikan, membuka kesempatan kerja, memperbaiki transportasi, menjaga lingkungan dan melindungi mereka yang lemah menuju Jakarta top kota global.

Jakarta sejak dahulu adalah melting pot Indonesia

"Rakyat yang pada tahun 1945 datang memenuhi IKADA adalah rakyat biasa. Tetapi ketika rakyat biasa dipersatukan oleh cita-cita yang luar biasa, sejarah pun berubah," ujar Rano. 

Dijelaskan Rano, peristiwa Lapangan IKADA mengajarkan kepada kita bahwa sebuah bangsa tidak hanya lahir dari teks proklamasi. Sebuah bangsa hidup ketika rakyat percaya kepadanya, berdiri untuknya dan bersedia menjaga masa depannya. 

"Ketika mengenang peristiwa Lapangan IKADA, sesungguhnya kita sedang mengingat kembali sebuah perjumpaan agung antara rakyat dan Republiknya. Dan perjumpaan itu terjadi di kota Jakarta," tegas Rano.

Jakarta, lanjut Rano, tidak sekadar menjadi sebuah kota. Namun, dari Jakarta, gema Sumpah Pemuda dikumandangkan dan Proklamasi Kemerdekaan dibacakan. Kemudian, di Lapangan IKADA, rakyat datang berbondong-bondong menegaskan bahwa Republik yang baru diproklamasikan itu adalah milik seluruh rakyat Indonesia.

"Sejarah Jakarta adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Indonesia yang di gang-gangnya, di kampung-kampungnya, di gedung-gedung tuanya, di jalan-jalannya tersimpan jejak perjalanan bangsa," ucap Rano.

Dilanjutkan Rano, Jakarta juga tumbuh dari perjumpaan berbagai suku bangsa seperti Betawi, Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Bugis, Ambon, Tionghoa, Arab, India, dan begitu banyak manusia dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia bertemu.

Mereka datang membawa bahasa, keyakinan, makanan, musik, cerita, dan harapan, lalu Jakarta meramunya menjadi sebuah identitas yang khas. 

"Jakarta sejak dahulu adalah melting pot Indonesia, tempat perbedaan tidak saling meniadakan, tetapi justru saling memperkaya," tukasnya.

Selanjutnya, Rano menjelaskan Jakarta sedang memasuki babak baru setelah tidak lagi menjadi Ibu Kota Megara dan tengah bergerak menuju kota global. 

Rano mengajak semua pihak mewujudkan Jakarta menjadi kota yang sejajar dengan kota-kota besar dunia yang maju transportasinya, kuat ekonominya, hijau lingkungannya, modern infrastruktur-nya, hidup kebudayaannya, dan tinggi kualitas manusianya.

Rano juga mengingatkan bahwa menjadi kota global bukan berarti kehilangan ingatan lokal dan nasional. Kemajuan boleh membangun gedung semakin tinggi, tetapi akar sejarah harus semakin dalam.

"Kita boleh menatap dunia semakin jauh, tetapi jangan pernah kehilangan kemampuan menoleh ke belakang, sebab kota yang kehilangan ingatan akan kehilangan jiwanya. Itulah sebabnya peristiwa Lapangan IKADA menjadi tetap penting," tegasnya.

Dipaparkan Rano, hari ini perjuangan bangsa tentu berbeda dengan saat terjadinya Rapat Lapangan IKADA tahun 1945. Karena itu perjuangaan saat ini bukan mengangkat senjata, melainkan melawan kemiskinan, melawan ketimpangan, memperluas pendidikan, membuka kesempatan kerja, memperbaiki transportasi, menjaga lingkungan dan melindungi mereka yang lemah.

Ditegaskan Rano, kelak ke depan Tanggul Giant Sea Wall akan berdiri. Gedung-gedung baru akan bertumbuh, Kepulauan Seribu bergerak menjadi sentra destinasi wisata baru dan teknologi akan berubah. 

Lalu, generasi akan berganti dan Jakarta mungkin akan tampil dengan wajah yang sama sekali berbeda.

Akan tetapi Rano berharap ada sesuatu yang tidak pernah berubah, yakni keberanian Jakarta untuk selalu berdiri bagi Indonesia. 

Dahulu, dari Lapangan IKADA, Jakarta membantu menjaga Republik yang baru lahir dan hari ini, Jakarta bekerja untuk menjadi kota yang menghadirkan keadilan dan kehidupan yang lebih baik bagi semua.

"Dari Lapangan IKADA, dari Jakarta hingga New York, Amerika, pesannya tetap sama. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton perjalanan dunia, Indonesia harus ikut menulis masa depan dunia," tandasnya.

BERITA TERKAIT
Uus Kuswanto menjadi inspektur upacara peringatan Hari Rapat Raksasa IKADA ke-90

Uus Jadi Irup Memperingati Hari Rapat Raksasa Ikada Tingkat Kota Jakbar

Jumat, 19 September 2025 1268

Upacara peringatan Hari Rapat Raksasa IKADA di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Jumat (19/9)

Pemkot Jakpus Gelar Upacara Peringati Hari Rapat Raksasa IKADA

Jumat, 19 September 2025 1723

Rano JITEX 2026 bilal

Rano Optimistis JITEX 2026 Bisa Perkuat Daya Saing Ekonomi Jakarta

Kamis, 17 September 2026 557

BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 3220

Pendataan pengadaan tanah MRT kwitang fakhri

Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

Sabtu, 19 September 2026 2056

LRT ujicoba jati

Tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai Didorong Terjangkau dan Terintegrasi

Senin, 21 September 2026 486

Wagub rano upacara rapat besar ikada 81 jati

Pimpin Upacara Peringatan Rapat IKADA 2026, Rano Tegaskan Perjuangan Belum Tuntas

Senin, 21 September 2026 446

Pemadaman lampu hemat energi dok

Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

Sabtu, 19 September 2026 748

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks