Kamis, 16 Juli 2026 Reporter: Nurito Editor: Toni Riyanto 350
(Foto: Nurito)
Sebanyak 200 personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Timur mengikuti kegiatan Pembinaan Mental, Fisik, dan Disiplin (MFD) di Kantor Wali Kota setempat.
"Pendekatan yang memanusiakan manusia"
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas personel agar semakin profesional sekaligus mengedepankan pendekatan humanis dalam menjalankan tugas di lapangan.
Pembinaan yang diikuti personel Satpol PP tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan ini menghadirkan narasumber dari Garnisun serta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Mengusung tema "Satpol PP Humanis & Profesional", pembinaan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Satpol PP Jakarta Timur, Muhammadong mengatakan, tema tersebut mencerminkan arah baru sekaligus komitmen yang harus dimiliki setiap personel dalam menjalankan tugas penegakan peraturan daerah dan menjaga ketenteraman serta ketertiban umum.
"Tema ini menunjukkan arah baru, komitmen, sekaligus jati diri yang harus melekat dalam diri setiap anggota Satpol PP Jakarta Timur saat menjalankan tugas di lapangan," ujarnya, Kamis (16/7).
Muhammadong menjelaskan, pendekatan humanis harus menjadi prinsip utama setiap personel. Masyarakat harus dipandang sebagai warga negara yang perlu dilayani dan dilindungi, bukan sebagai pihak yang dihadapi.
Ia menegaskan, dalam penegakan peraturan daerah, personel Satpol PP harus mengutamakan dialog, komunikasi persuasif, serta sikap ramah melalui senyum, sapa, dan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
"Kita harus mampu meredam potensi konflik dengan pendekatan yang memanusiakan manusia. Kehadiran Satpol PP harus memberikan rasa aman dan tertib, bukan menimbulkan ketakutan," terangnya.
Selain humanis, Muhammadong juga menekankan pentingnya profesionalisme. Personel Satpol PP harus bekerja sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, memahami batas kewenangan, menguasai standar operasional prosedur (SOP), serta tidak bertindak di luar koridor hukum.
Ia menilai, profesionalisme hanya dapat terwujud apabila didukung mental yang kuat, kondisi fisik yang prima, serta disiplin yang tinggi.
"Pembinaan mental, fisik, dan disiplin menjadi sangat penting untuk membentuk karakter personel yang tangguh sekaligus profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya.
Ia berharap, seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
"Selain menerima materi di dalam kelas, peserta juga menjalani latihan praktik di lapangan, meliputi kesamaptaan, Peraturan Baris Berbaris (PBB), hingga bela diri taktis. Pelatihan tersebut dipandu oleh instruktur dari Garnisun, yakni Serka Lusi Dwi, Serka Ari Wahyudi, dan Pelda Imron," tandasnya.