Selasa, 14 Juli 2026 Reporter: Tiyo Surya Sakti Editor: Toni Riyanto 388
(Foto: Andri Widiyanto)
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dan Polri memberikan pendampingan psikologis kepada peserta didik, orang tua, dan guru di SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan setelah kemarin mendapatkan ancaman bom dan mengganggu aktivitas sekolah.
"Kembali bersekolah dengan rasa aman dan gembira"
Pendampingan dilakukan melalui kegiatan Pagi Ceria sebagai upaya memulihkan rasa aman sekaligus memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap berlangsung kondusif.
Menteri Dikdasmen RI, Abdul Mu'ti mengatakan, kehadiran pemerintah bertujuan memberikan semangat kepada seluruh warga sekolah agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.
"Kami ingin memastikan anak-anak kembali bersekolah dengan rasa aman dan gembira. Tadi saya sempat berdialog dengan murid-murid baru kelas satu, Alhamdulillah mereka terlihat ceria dan sangat antusias mengikuti kegiatan belajar," ujarnya, Selasa (14/7).
Mu'ti menjelaskan, kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pendampingan psikologis oleh tim Polri dan Pemprov DKI Jakarta, serta ditutup dengan doa bersama.
Menurutnya, kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan mental peserta didik setelah peristiwa yang terjadi.
"Kami ingin memastikan MPLS berjalan lancar. Anak-anak tampak gembira dan tidak menunjukkan rasa takut sama sekali," terangnya.
Ia mengingatkan pentingnya membiasakan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat, termasuk membangun pola hidup sehat, pergaulan positif, serta menghindari penggunaan gawai secara berlebihan yang tidak memberikan manfaat.
Mu'ti turut mengapresiasi para orang tua yang tetap memberikan dukungan dengan mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah.
"Saya bertanya kepada beberapa anak, mereka diantar orang tuanya. Dukungan seperti ini sangat penting agar anak-anak semakin semangat belajar," ungkapnya.
Selain memberikan motivasi kepada peserta didik, lanjut Mu'ti, Kemendikdasmen RI juga memberikan penyuluhan kepada orang tua agar mampu menciptakan suasana yang kondusif di rumah dan menjaga kondisi psikologis anak.
Mu'ti menegaskan pentingnya menjaga privasi peserta didik yang berkaitan dengan peristiwa tersebut agar tidak menimbulkan dampak psikologis yang lebih besar.
"Kami meminta agar tidak ada pihak yang menyebarkan informasi mengenai hal tersebut kepada anak-anak lain. Privasi dan kondisi mental anak harus dijaga dengan baik," ucapnya.
Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pelayanan Perempuan dan Anak (Dirres PPA dan PPO) Polda Metro Jaya, Kombes Rita Wulandari Wibowo menambahkan, pihaknya mengerahkan tim pemulihan trauma untuk mendampingi peserta sekaligus memberikan edukasi kepada orang tua dan tenaga pendidik.
Ia menyampaikan, pendampingan akan terus dilakukan bersama Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta.
"Kami bersama Dinas Pendidikan dan Dinas PPAPP DKI Jakarta akan terus memberikan pendampingan. Alhamdulillah respons mereka sangat baik. Terpenting saat ini tidak ada lagi yang menyebarkan ataupun mendistribusikan konten negatif terkait kejadian di sekolah ini," bebernya.
Sementara itu, Kepala SDN Srengseng Sawah 15 Kamtono menyebut, ancaman bom yang terjadi sempat membuat guru merasa panik dan gelisah. Namun, pihak sekolah berupaya menjaga situasi tetap kondusif agar proses MPLS tidak terganggu.
"Sebagai guru tentu ada rasa gelisah. Tetapi kami harus meminimalkan dampaknya dan berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, baik di sekolah kami maupun di sekolah lain. Kasihan anak-anak yang sedang menjalani masa pengenalan sekolah," imbuhnya.
Ia memaparkan, sebagian peserta didik, terutama yang sudah lebih besar, sempat mengetahui adanya ancaman tersebut. Untuk itu, sekolah menggandeng tim psikologi untuk memberikan pendampingan agar tidak muncul trauma yang berkepanjangan.
"Saya sangat prihatin terhadap anak yang berkaitan dengan peristiwa ini karena tentu ada beban mental. Kami khawatir mereka menjadi enggan bersekolah. Padahal sebagai guru, kami memiliki tanggung jawab membina, mendidik, dan memastikan masa depan mereka tetap berjalan dengan baik," tandasnya.