Jumat, 03 Juli 2026 Reporter: Fakhrizal Fakhri Editor: Andry 202
(Foto: Istimewa)
Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 tidak hanya hadir sebagai festival lingkungan terbesar tahun ini, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai penyelenggaraan acara publik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
"Sampah dikelola sesuai jenisnya,"
Mengusung konsep Less Waste Event atau kegiatan minim sampah, JEFF 2026 dirancang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui pengurangan sampah sejak dari sumber, pemilahan sampah, hingga penerapan sistem guna ulang selama festival berlangsung.
Penerapan konsep tersebut mengacu pada pedoman penyelenggaraan kegiatan minim sampah yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Pedoman itu menjadi acuan agar seluruh rangkaian penyelenggaraan festival berjalan sesuai prinsip ramah lingkungan dan dapat menjadi contoh bagi kegiatan publik lainnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin mengatakan, penerapan Less Waste Event merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI menghadirkan acara publik yang tidak hanya meriah dan edukatif, namun memberikan dampak positif bagi lingkungan.
"Upaya pengurangan sampah tidak hanya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk festival dan acara publik. Melalui JEFF 2026, kami ingin menunjukkan bahwa acara besar pun bisa diselenggarakan dengan lebih bijak, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan," ujar Dudi, Jumat (3/7).
Menurutnya, JEFF 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi seluruh pihak. Pengunjung, tenant, komunitas, pelaku usaha, hingga petugas lapangan memiliki peran penting dalam mewujudkan festival yang bersih, nyaman, dan minim sampah.
Sebagai bagian dari penerapan konsep tersebut, panitia menyediakan 13 set tempat sampah terpilah yang terdiri atas sampah organik, anorganik, dan residu di seluruh area festival. Pada setiap titik, petugas penyuluh dari Pramuka Saka Kalpataru akan mendampingi sekaligus mengedukasi pengunjung agar memilah sampah dengan benar sejak dari sumber.
"Setiap sampah akan dikelola sesuai jenisnya. Sampah organik akan diolah menjadi kompos dan pakan maggot oleh Satpel LH Gambir, sampah anorganik dikumpulkan melalui Waste Station Balai Kota, sementara sampah residu akan diangkut ke TPST Bantargebang," jelas Dudi.
Selain pengelolaan sampah, JEFF 2026 juga menerapkan Protokol Guna Ulang bekerja sama dengan Dietplastik Indonesia untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Melalui sistem ini, seluruh tenant makanan dan minuman menggunakan wadah guna ulang yang dapat dipakai berulang kali sehingga timbulan sampah selama festival dapat ditekan secara signifikan.
Untuk mendukung penerapan sistem tersebut, panitia menyediakan sejumlah titik pengembalian wadah (drop point) di area festival. Wadah yang telah digunakan pengunjung akan dikumpulkan, dicuci di fasilitas khusus oleh tim teknis, lalu didistribusikan kembali kepada tenant untuk digunakan kembali.
Dudi berharap, JEFF 2026 dapat menjadi contoh praktik baik dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan di Jakarta. Menurutnya, semakin banyak acara yang menerapkan prinsip minim sampah dan sistem guna ulang, semakin kuat pula budaya ramah lingkungan yang tumbuh di tengah masyarakat.
"Budaya pilah sampah dan guna ulang perlu kita bangun bersama. Langkahnya sederhana, tetapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten. Kami mengajak seluruh pengunjung JEFF 2026 untuk ikut mendukung gerakan ini dengan membuang sampah sesuai jenisnya, mengembalikan wadah guna ulang ke titik yang tersedia, dan menjadi bagian dari perubahan menuju Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan," tandas Dudi.