Senin, 02 Maret 2026 Reporter: Dessy Suciati Editor: Erikyanri Maulana 195
(Foto: Andri Widiyanto)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memberikan perhatiannya mengenai potensi dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran terhadap stabilitas harga pangan dan barang di Jakarta.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI telah menyiapkan langkah mitigasi melalui optimalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
"kita harus mempersiapkan untuk itu,"
Karena itu, Pramono berharap konflik bersenjata tersebut tidak berlangsung lama. Sebab menurutnya, gangguan pada jalur distribusi internasional, terutama di Selat Hormuz dapat memicu efek domino pada kenaikan biaya logistik dunia.
"Karena pertama supply chain-nya ini kan melalui Selat Hormuz yang di situ hampir 30 persen lebih minyak dunia itu selalu melewati selat ini, termasuk juga barang-barang yang lain," ujar Pramono, di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Pramono menjelaskan, Jakarta telah memiliki infrastruktur dan juga BUMD terkait pangan. Ia pun mengaku telah meminta jajaran BUMD pangan agar selalu bersiap diri dan mengadopsi pola pikir sadar krisis.
Hal ini dilakukan agar Jakarta memiliki ketahanan stok yang cukup jika sewaktu-waktu terjadi kelangkaan produk tertentu.
"Sehingga dengan demikian kalau ada kekurangan misalnya produk-produk tertentu, maka kita harus mempersiapkan untuk itu," kata Pramono.
Ia mencontohkan saat mendatangkan sekitar 2.000 ekor sapi untuk menjaga harga daging tetap stabil di pasar-pasar Jakarta menghadapi Ramadan dan Idulfitri. Melalui pengadaan tersebut, Pramono menyebut harga daging di Jakarta pun terkendali.