Jokowi Sumbang Rp 10 Ribu untuk TKI Satinah

Rabu, 26 Maret 2014 Reporter: Erna Martiyanti Editor: Widodo Bogiarto 7548

jokowi_kemeja_putih.jpg

(Foto: doc)

Anggota Komisi IX DPR RI Rieke Dyah Pitaloka menyambangi Balaikota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Kedatangan politisi PDI Perjuangan kali ini guna meminta sumbangan untuk menyelamatkan Satinah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dihukum mati di Arab Saudi, karena membunuh majikannya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi tergerak rasa kemanusiaannya. Pria asal Solo itu kemudian mengeluarkan uang Rp 2.000 sebanyak lima lembar dan memasukkan ke dalam kotak sumbangan. "Ini saya sumbang Rp 10 ribu," ujar Jokowi di Balaikota, Rabu (26/3).

Jokowi meminta untuk tidak dilihat dari jumlah sumbangan yang diberikan. Ia juga berharap kepada masyarakat untuk turut membantu Satinah, berapa pun besaran yang disumbangkan. Sebab diperlukan uang sebesar Rp 21 miliar, sebagai uang diyat atau uang duka yang diberikan kepada keluarga almarhumah.

"Jangan dilihat jumlahnya, ini masalah menggerakkan masyarakat. Tetapi menurut saya ke depan sebaiknya pemerintah menghentikan pengiriman TKI ke negara yang tidak punya perjanjian tertulis dengan kita. Karena TKI akan punya kedudukan lemah dan rentan berbicara," ujarnya.

Dikatakan Jokowi, sebanyak 80 persen Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) berada di Jakarta. Bahkan ada juga penyalur gelap. Selain itu, Jokowi melihat juga ada pungutan liar yang terjadi di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta. "Di dinas juga masih ada problem dan akan saya selesaikan. Perketat perizinan, juga mencabut izin kalau memang izinnya ada di kita," katanya.

Sementara itu, Rieke mengatakan, Jokowi sebelumnya sudah memberikan sumbangan lebih dari Rp 10 ribu. "Kalau secara pribadi ya ada deh sumbangannya, yang pasti tidak Rp 10 ribu. Ini sudah ada amplopnya di dalam kotak," kata Rieke. Pantauan beritajakarta.com, di dalam kotak sumbangan terlihat amplop tebal berwarna putih. Amplop tersebut yang diberikan Jokowi sebelumnya.

Menurut Rieke, sejak awal persidangan di tahun 2007, pemerintah Indonesia tidak pernah mendampingi Satinah. Sedangkan sidang eksekusi Satinah tinggal tujuh hari lagi. Menurut dia, uang yang terkumpul untuk Satinah baru Rp 12 miliar dari total Rp 21 miliar yang harus dibayarkan. Sementara uang yang terkumpul dari hasil sumbangan sebesar Rp 2,4 miliar.

"Jadi, kalau menurut Mas Jokowi, sudah tidak boleh lagi mekanisme diyat (uang duka keluarga) sebagai solusi kasus-kasus vonis hukuman mati," kata Rieke.  

Seperti diketahui, Satinah, seorang TKI asal Ungaran, Jawa Tengah, mengadu nasib ke Arab Saudi. Namun, di sana, dia mendapat siksaan dari majikannya. Satinah pun melawan sehingga harus membunuh majikannya.

Pengadilan Arab Saudi memutuskan bahwa Satinah bersalah dan harus menjalani hukuman pancung pada 3 April 2014. Untuk bisa bebas dari hukuman tersebut, Satinah harus membayar uang duka keluarga sebesar Rp 21 miliar.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
IMG 20260202 WA0102

Lapak Bensin Eceran di Jl Hadiah Utama Ditertibkan

Senin, 02 Februari 2026 4392

Rano tinjau Jalan Rusak Thamrin jati

Rano Pastikan Perbaikan Jalan Rusak Terus Dilakukan

Selasa, 03 Februari 2026 744

IMG 20260203 191714

Pemprov DKI Gelar Tiga Sorti Operasi Modifikasi Cuaca Hari Ini

Selasa, 03 Februari 2026 531

Imlek glodok jati

Perayaan Imlek di Jakarta Bakal Lebih Semarak dan Berwarna

Selasa, 03 Februari 2026 525

Transjabodetabek blokM rezap

Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Diluncurkan Pekan Depan

Selasa, 03 Februari 2026 504

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks