Minggu, 16 Maret 2014
Reporter: Budhi Firmansyah Surapati
Editor: Agustian Anas
3626
(Foto: doc)
Pengerukan sejumlah saluran air dan saluran penghubung (PHB) di Jakarta Utara dikeluhkan warga. Hal ini dikarenakan lumpur hasil pengerukan dibiarkan teronggok di pinggir jalan. Selain mengakibatkan lingkungan menjadi semrawut, kondisi ini juga membahayakan keselamatan pengguna jalan dan tak jarang menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Sudah hampir sepekan, karung berisi lumpur dan sampah tersebut dibiarkan menumpuk di jalan, seperti terlihat di Jl Yos Sudarso, Jl Pluit Raya, Jl Cakung Cilincing dan Jl Pegangsaan Dua.
Solihin (31), warga RW 05, Rawabadak Utara, Koja, mengeluhkan tumpukan karung lumpur di sekitar kantor Damkar dan PB Kelurahan Rawabadak Utara. Pasalnya, tumpukan karung lumpur sampah itu mengotori jalan dan menimbulkan bau tak sedap. "Apalagi kalau hujan, lumpur bisa terbawa air sehingga mengotori jalan," keluhnya, Minggu (16/3).
Hal yang sama juga dikatakan Dery (34) warga RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua. Selain membuat kotor, ia juga khawatir lumpur kembali masuk ke dalam saluran. "Kalau tidak segera diangkut, nanti lumpurnya berceceran dan kembali masuk ke saluran air. Lagipula, kenapa sudah sepekan lebih tidak diangkut juga," ketusnya.
Kasie Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Sumber Daya Air, Sudin PU Tata Air Jakarta Utara, Kuryatna Atmadja, membenarkan sejak satu bulan terakhir pihaknya melakukan pengerukan sejumlah saluran air untuk mengurangi banjir. Namun pengerjaan dilaksanakan oleh Kasie PU Tata Air masing-masing kecamatan.
"Nanti akan saya koordinasikan dengan Kasie PU di tingkat kecamatan. Saya akan minta mereka segera mengangkut karung lumpur tersebut," janjinya.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
1.000 Lulusan SMA Sederajat Ikut Program Pemagangan di 67 Perusahaan
Senin, 04 Mei 2026
881
Pemprov DKI-Danantara Sepakat Bangun PSEL
Senin, 04 Mei 2026
804
Dinkes DKI Siagakan Posko Kesehatan di Peringatan May Day 2026
Jumat, 01 Mei 2026
1180
Pramono Pastikan Pemprov Hadir Dukung Pembangunan Keluarga