DKI Atasi Macet dengan Transportasi Massal Berbasis Rel

Rabu, 04 Februari 2015 Reporter: Folmer Editor: Dunih 6817

Basuki Pasrah Jakarta Dicap Kota Termacet di Dunia

(Foto: Yopie Oscar)

Kemacetan ibu kota yang makin parah menempatkan Jakarta sebagai kota termacet di dunia. Namun begitu, sejumlah upaya mengatasi kemacetan juga dilakukan Pemprov DKI dan pemerintah pusat. Salah satunya dengan membangun transportasi massal berbasis rel.

Kalau kamu tidak punya sistem transportasi berbasis rel pasti macet

Untuk tahun 2015 ini saja jalur kereta api Tanjung Priok-Kota akan mulai difungsikan. Begitu pun jalan menuju Bandara Soekarno Hatta pada 2016 akan dilengkapi rel yang pembangunannya akan dilakukan oleh Kementerian Perhubungan. Sedangkan untuk proyek Mass Rapid Transit (MRT) saat ini juga sedang tahap pengerjaan. Diharapkan dengan sejumlah proyek transportasi massal tersebut kemacetan bisa diminimalisir.

"Kalau kamu tidak punya sistem transportasi berbasis rel pasti macet,” kata Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta di Balaikota, Rabu (4/2).

Ia mengatakan, Jepang yang memiliki sistem transportasi massal berbasis rel sangat bagus, ternyata juga masih macet.

"Apalagi kita. Makanya, kita lagi membangun (sistem transportasi berbasis rel) di ibu kota,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, untuk kondisi Jakarta yang seperti ini memang mau tidak mau harus ditahan dulu. Paling tidak hingga 30 sampai 40 tahun mendatang.

"Belum lagi yang ngeyel-ngeyel. Untung saya tensi masih bagus kalau nggak kena stroke," ucapnya.

Sekadar diketahui perusahaan pelumas Castrol bekerja sama dengan TomTom selaku penyedia navigasi merilis banyak kota yang dinilai mempunyai tingkat kemacetan tinggi.

Daftar tersebut disebut Castrol Magnetic Stop-Start Index. Dalam index tersebut, Castrol akan menghitung berapa kali waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh kendaraan untuk berhenti dan kembali berjalan dalam sehari. Semakin besar jumlah stop-start maka semakin macet kota tersebut.

Ada 78 kota di seluruh dunia yang dimasukkan dalam indeks ini. Dari indeks yang dikeluarkan oleh Castrol dan Tomtom tersebut, Jakarta menempati kota dengan jumlah stop-start terbanyak yaitu 33.240 per tahun. Jumlah ini berada di atas rata-rata yang seharusnya 18.000 stop-start per tahun. Ada 3 tanda yang diberikan oleh Castrol yaitu merah, hijau dan kuning. Jakarta dan Surabaya masuk pada kategori merah.

BERITA TERKAIT
Djarot Berharap Pembangunan Kereta Bandara Sesuai Target

Djarot Ingin Kereta Api Bandara Rampung 2016

Selasa, 03 Februari 2015 6064

Ahok Minta Pusat Bangun Kereta Bandara Sebelum Asian Games

Basuki Minta Kemenhub Bangun Kereta Bandara

Selasa, 27 Januari 2015 6536

Pembenahan Transportasi di DKI Bakal Dikebut

Pembenahan Transportasi di DKI Bakal Dikebut

Senin, 19 Januari 2015 6866

Basuki Minta Dukungan Warga Atasi Kemacetan di Ibukota

Pemprov DKI Tiru Sistem Transportasi di Chicago

Jumat, 16 Januari 2015 6105

Ahok: Tugas Pemprov Sediakan Transportasi Massal

Ahok: Tugas Pemprov Sediakan Transportasi Massal

Senin, 15 Desember 2014 5427

BERITA POPULER
Gub pramono Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu rezap

Perkuat Penanganan Kanker, Pram Resmikan Gedung Aura Oncology Center RSUD Pasar Minggu

Jumat, 30 Oktober 2026 7085

IMG 20261031 WA0044

Ancol Berdzikir dan Bershalawat Perkuat Nilai Spiritual Menuju Kota Global

Sabtu, 31 Oktober 2026 4766

Mobil patah as budi

Petugas Dishub Evakuasi Mobil Patah As Roda di Cengkareng

Senin, 02 November 2026 1471

PJLP dki dok

Pramono Pastikan Rapelan Gaji PJLP DKI Mulai Dicairkan Bertahap

Jumat, 30 Oktober 2026 2384

Jrf2026 rezap

Jakarta Running Festival Berpotensi Terus Berkembang

Selasa, 27 Oktober 2026 2260

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks