Jokowi Tolak Jakarta Dibandingkan dengan Kota Lain

Kamis, 20 Februari 2014 Reporter: Erna Martiyanti Editor: Dunih 5748

tol_macet_dokbj.jpg

(Foto: doc)

Kondisi lahan yang terbatas di Jakarta hingga menyisakan ruang yang sedikit untuk fasilitas jalan tidak bisa dibandingkan dengan daerah lain, termasuk juga Surabaya. Karena itu, jika Walikota Surabaya Tri Rismaharini menolak pembangunan jalan tol dalam kota. Tidak berarti Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, juga menolak rencana pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta. Terlebih, rasio jalan di Jakarta sangat tidak sebanding dengan pesatnya pertumbuhan kendaraan.

Jokowi mengaku, setiap wilayah tidak bisa dibanding-bandingkan. Sebab, kondisinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Misalnya saja masalah rasio jalan, jika di suatu kota rasio jalannya sudah tercukupi tidak masalah untuk menolak pembangunan jalan. Namun, lain halnya jika rasio jalan masih kurang, maka pembangunan jalan tetap diperlukan agar seimbang dengan jumlah kendaraan yang setiap harinya tumbuh subur.

"Setiap daerah punya kondisi berbeda-beda. Kalau untuk daerah yang memang rasio jalan cukup, ngapain ditambah? Tapi kalau masih kurang ya ditambah. Tidak bisa dibandingin di sini sama di sana," kata Jokowi, di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (20/2).

Saat ini rasio jalan di Jakarta baru mencapai 6 persen dari luas wilayah ibu kota yang mencapai 650 kilometer. Idealnya rasio jalan di kota-kota besar di atas 12 persen dari luas wilayahnya. Untuk pertumbuhan kendaraan di Jakarta saat ini mencapapi 11 persen, sedangkan pertumbuhan ruas jalannya hanya 1 persen. Rasio jalan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti di Singapura hingga 12 persen, New York 18 persen, dan Tokyo 20 persen.

Untuk memenuhi target rasio jalan tersebut, Pemprov DKI Jakarta pun berencana membangun enam ruas jalan tol dengan total investasi mencapai Rp 42 triliun. Proyek pembangunan enam ruas tol dalam kota ini dibagi menjadi empat tahap dan direncanakan selesai pada 2022. Tahap pertama, ruas Semanan-Sunter sepanjang 20,23 kilometer dengan nilai investasi Rp 9,76 triliun dan koridor Sunter-Pulo Gebang sepanjang 9,44 kilometer senilai Rp 7,37 triliun.

Tahap kedua, Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 12,65 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,96 triliun dan Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,60 kilometer senilai Rp 6,95 triliun. Tahap ketiga, koridor Ulujami-Tanah Abang dengan panjang 8,70 kilometer dan nilai investasi Rp 4,25 triliun. Terakhir ialah Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,15 kilometer dengan investasi Rp 5,71 triliun.

Total panjang ruas enam tol dalam kota tersebut sepanjang 69,77 kilometer. Jika sudah selesai, keenam ruas tol itu akan menjadi satu dengan tol lingkar luar milik PT Jakarta Tollroad Development, tetapi tarifnya akan terpisah dengan tol lingkar luar. Pembangunan megaproyek senilai Rp 42 triliun itu pun telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2017.
BERITA TERKAIT
BERITA POPULER
80790596

TPHP Cengkareng Dirancang Jadi Destinasi Wisata

Kamis, 17 September 2026 2914

Pendataan pengadaan tanah MRT kwitang fakhri

Pendataan Awal Pengadaan Tanah MRT Thamrin-Kwitang Dimulai

Sabtu, 19 September 2026 1236

Pemadaman lampu hemat energi dok

Pemprov DKI Ajak Warga Hemat Energi Lewat Aksi 60 Menit Hari Ini

Sabtu, 19 September 2026 496

Kebakaran j65 jelambar jakbar budi

17 Unit Pemadam Tangani Kebakaran di Permukiman Padat Jelambar

Senin, 14 September 2026 1280

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Sudinhub Jakbar Rekayasa Lalin Kolong Fly Over Pesing

Senin, 14 September 2026 1084

Bagikan ke :
BANG JAKI +indeks
POTRET JAKARTA +indeks
VIDEO +indeks